_________________________________________________
“Janganlah menganggap bahwa pesantren itu adalah hotel, kalian bukan untuk dilayani akan tetapi untuk didik demi masa depan kalian.”
(25-juni-2016)

MUHAMMAD YAZID DIMYATI

“Selalu ikhlaslah nak, dan selalu mencoba memberikan yang terbaik.” (25-juni-2016)

“Pesantren modern daarul ‘uluum lido bukan tempat kalian bermalas-malasan dan bukan tempat kalian tidur-tiduran.” (25-juni-2016)

“Daarul ‘uluum lido menganut ahlu sunnah wal jamaah, kita adalah NU yang ber-muhammadiyah dan kita adlah muhammadiyah yang ber-NU.”

“Ahli dzikir dan ahli fikir adalah konseptual esensitas keseimbangan antara IMTAQ dan IPTEK.”

“Janganlah pernah menodai keikhlasan kyai dan guru-guru mu nak.”

“من كثر علمه قلّ انكره”

“Jadilah pendengar yang baik karna itu termasuk ilmu yang bermanfaat”

“Jangan jadikan ilmu sebgai musuhmu maka amalkanlah.”

“Hidup mau dipondok atau dirumah semua ada ujian nya.”

“Barukan niatmu (untuk santri lama) dan lamakan lah niatmu nak (santri baru).”

“3 kwalitas yang harus dimiliki oleh santri
• Kwalitas moral
• Kwalitas intelektual
• Kwlitas spiritual”

“Nasihat yang beliau sampaikan saat apel tahun ajaran 2016-2017:
1. Luruskan, mantapkan, dam murnikan niat.
2. Khidmah lah kepada guru, buku, dan ilmu.
3. Sabar
4. Ikhlas”
__________________________________________________
¹Ini adalah beberapa nasihat² yg terekam dalam catatan diary ku, yang ku temukan di file laptop ku. Banyak sekali nasihat² beliau yang tersampaikan kpada kami santri²nya. Semoga bisa tersimpan dalam jiwa dan raga kami santri² beliau. Rabbi fanfa’na bibarkatihi. Amin.

Buka-buka file laptop, eh nemu file berjudul “Nasihat Pak Kyai Yazid Dimyati”.

Aku ingat betul, bahwa dulu, setiap tahun ajaran baru, aku punya satu buku buat nulis kata” atau nasihat guruku. di buku itu pula aku sering mencurhatkan kegalauan ku, entah karena ada masalah dengan teman, susah ngafal, susah belajar, atau bahkan waktu diputusin sama doi. hahaha. cinta monyet gitu deh. dan buku ini mungkin biasa disebut dengan diare, eh. Diary, mksdnya.:D

Nah, ternyata ketika zaman pengabdian, saat liburan, aku buka-buka buku itu lagi. pas baca buku itu, lucu-lucu plus sedih gimanaa gitu. lucu karena betapa lugu dan polosnya ibad zaman itu. Dan sedih, betapa banyak nasihat guru ku yang ku tulis tapi belum bisa aku Amalkan.

Disana banyak nasihat guru2 ku, contohnya seperti nasihat bu rahma yang sampai sekarang masih teriang di telinga ku. beliau berkata: “Nak, imbangilah jeri payah orang tua mu”. dan masih banyak lagi nasihat2 orang tua ku (guru2ku). dan sampai saat ini, nasihat itu selalu ku tulis dalam diary2 ku.

Contoh lain adalah nasihat dari guru inspirator ku dalam berbahasa Arab, Alm. Kyai Hasbi Abdurrazaq –Ghafarahullah-, aforisme yang selalu beliau kobarkan adalah “La Rahata illa Fil Jannah (Tidak ada istirahat kecuali di syurga.”

Di postingan Ini adalah beberapa nasihat2 pak yai Yazid Dimyati –Hafizahullah Tula hayatih- yang terekam di buku2 ku itu. Sempat aku tulis saat pengabdian, tapi sayang belum terangkum semua. Dan buku2 ku itu ada di Indonesia.

Membaca kembali nasihat guru itu seperti mengecash baterai yang sudah lemah, Menyiram jiwa yang sudah layu, dan menyalakan kembali api perjuangan yang mulai padam. Oleh sebab itu, aku posting nasihat ini, agar bisa jadi motivasi dan nasihat untuk aku dan untuk kita semua. Khususnya santri beliau.

Aku jadi teringat mba Rossy Faradisi, anak Kh. Hasan Abdullah Sahal (Gontor), membagikan postingan sebuah buku saku yang berisi nasihat² sang ayah, Kh. Hasan Abdullah Sahal. Judul Buku itu “Kehidupan Mengajari Ku ((علمتني الحياة”. itu ada 3 jilid kalau tidak salah (mohon dibenarkan jika keliru). Rasanya penanaman spirit perjuangan bisa didapati dari sana.

Disini masih adakah yang menyimpan dan ingat nasihat2 ayahanda kyai Yazid Dimyati?

Mari berbagi, agar jiwa santri kita selalu semangat, dan kembali menyala dalam perbuatan dan keseharian kita…😊💪
_____________________
red (Khoirul Ibad, 24-Oktober-2019/Tetouan, Maroko.)