Lido – Dunia pesantren kembali berduka. Pada hari Jumat, 10 April 2026, seluruh santri Pondok Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido melaksanakan shalat ghaib dan mendoakan almarhum K.H. Abdullah Ma’sum Al Hafiz, Pimpinan PPTQ Manba’ul Furqon, yang bertempat di Desa Karehkel, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor.
Kyai Muhammad Yazid Dimyati, S.Th., Lc., Pimpinan Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido, yang pernah menuntut ilmu kepada almarhum, menyampaikan takziah dan mengenang jasanya. Berita duka ini beliau sampaikan setelah shalat Jumat di Masjid Al-Hadi, di hadapan seluruh santri. “Almarhum adalah sosok yang luar biasa. Saya sendiri sempat mondok di pesantren beliau selama lima bulan. Dalam waktu singkat itu, saya berhasil menghafal lima juz dengan bimbingan beliau, meski target sepuluh juz tidak tercapai. Beliau menunjukkan Quran Braille-nya kepada saya sebagai contoh, menegaskan bahwa siapapun, termasuk saya yang memiliki keterbatasan, dapat menghafal Al-Qur’an jika tekun. Jika saya yang buta bisa hafal, masa kalian yang sehat tidak mampu?”

Kyai Yazid juga mengenang kedisiplinan almarhum dalam mendidik santri. “Beliau tidak menyerahkan setoran hafalan kepada ustadz lain. Setiap hari, selepas subuh, beliau berada di mimbar imam, mendengarkan dan membimbing santri satu per satu. Bahkan seorang santri dipanggil jika hafalannya belum sempurna. Suara dan hafalan setiap santri beliau hafal. Kedisiplinan dan perhatian beliau terhadap santri sangat luar biasa,” jelas Kyai Yazid.
Selain itu, dengan keterbatasan penglihatan, almarhum dikenal teliti dan bersih. Beliau menekankan tanggung jawab, kemandirian, dan ketekunan. Semua fasilitas, mulai dari asrama hingga masjid, beliau awasi secara langsung.

K.H. Abdullah Ma’sum Al Hafiz lahir di Semarang pada tahun 1952. Meski mengalami hambatan penglihatan sejak kecil, beliau berhasil menghafal Al-Qur’an 30 juz. Pendidikan pesantrennya berlangsung di berbagai pondok, termasuk Miftahul Huda, Demak, dan pesantren di Kudus, Kaliwungu, Pekalongan, hingga akhirnya memimpin PPTQ Manba’ul Furqon sejak 1990. Di bawah kepemimpinannya, pesantren tersebut berkembang pesat, dengan fokus pada tahfiz Al-Qur’an dan pembinaan karakter santri.
Kyai Muhammad Yazid Dimyati menutup takziah dengan menyampaikan pesan untuk para santri: “Beliau adalah teladan pengabdian dan kesungguhan. Semoga kita dapat meneladani semangat dan ketekunan beliau dalam menuntut ilmu dan mengamalkan Al-Qur’an.” (red: silah).
