DaarulUluumLido — Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido memulai Tahun Ajaran 2026–2027 dengan menggelar Rapat Kerja Tahunan Dewan Guru, Tenaga Kependidikan, dan Tenaga Non Kependidikan di Aula Pesantren pada Sabtu (27/6). Agenda yang diikuti seluruh unsur pendidik dan tenaga kependidikan ini bukan sekadar forum penyusunan program kerja, tetapi juga menjadi momentum peneguhan arah perjuangan lembaga, regenerasi kepemimpinan, serta penguatan kembali filosofi pengabdian seorang guru.

Rapat kerja diawali dengan pembacaan Surat Keputusan Khadimul Ma’had mengenai jabatan struktural, fungsional, dan personalia Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido Tahun Ajaran 2026–2027. Pergantian sejumlah posisi menjadi bagian dari evaluasi kelembagaan yang dilakukan secara berkala sebagai upaya menjaga dinamika organisasi agar terus berkembang.

Dalam sesi Irsyadat wa Taujihat, Khadimul Ma’had Kiai. M. Yazid Dimyati, S.Th.I., Lc. mengajak seluruh guru memandang pergantian struktur organisasi sebagai sesuatu yang alamiah dalam perjalanan sebuah lembaga pendidikan.

“Segala sesuatu pasti mengalami pergantian. Jangan melihat perubahan jabatan sebagai sesuatu yang aneh. Ada yang selesai menjalankan amanah, ada yang menerima amanah baru. Semuanya adalah bagian dari proses memperbaiki lembaga,” ungkap beliau.

Irsyadat Wa Taujihat, Khadimul Ma'Had Kiai. M. Yazid Dimyati, S.th.i., Lc.
Guru tidak cukup mengajar: rapat kerja tahunan daarul 'uluum lido tegaskan pentingnya kepemimpinan dan pengabdian 2

Regenerasi Adalah Sunnatullah Organisasi

Menurut beliau, masa efektif jabatan struktural selama tiga tahun bukan sekadar aturan administratif, melainkan kesempatan untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap budaya kerja organisasi.

Karena itulah, perubahan yang terjadi tidak hanya menyentuh lapisan bawah, tetapi juga dapat terjadi pada tingkat kepemimpinan. Mereka yang telah menyelesaikan amanah patut diapresiasi atas dedikasinya, sementara yang menerima amanah baru dituntut membawa semangat baru dengan penuh tanggung jawab.

“Yang digantikan harus ikhlas, yang menggantikan harus siap mengemban amanah. Itulah kewajaran dalam sebuah organisasi yang ingin terus bertumbuh,” pesannya.

Beliau kemudian mengutip hikmah dari Imam Asy-Syafi’i tentang pentingnya menerima perubahan dengan lapang dada. Dalam kehidupan, selalu ada pengganti bagi setiap peran. Karena itu, tidak perlu larut dalam penyesalan ketika amanah berganti, sebab setiap fase memiliki hikmah dan ruang pengabdian masing-masing.

Belajar Kepemimpinan dari Gontor

Salah satu bagian yang paling menarik dalam pengarahan tersebut adalah ketika Khadimul Ma’had membagikan hasil refleksinya dari sebuah sarasehan di Pondok Modern Gontor.

Selama ini, banyak orang memahami kepemimpinan Gontor hanya dari pembagian tugas antara pemimpin yang mengurus bagian dalam dan bagian luar pesantren. Namun menurut beliau, hakikat kepemimpinan Gontor justru berada pada sinergi tiga karakter besar yang saling melengkapi.

Pertama adalah sosok leader, yaitu figur yang memiliki visi dan mampu mengambil keputusan. Kedua adalah manager, sosok yang memastikan seluruh sistem berjalan dengan baik. Ketiga adalah guru, ruh pendidikan yang menjaga nilai, budaya, dan arah perjuangan lembaga.

“Tidak cukup hanya memiliki pemimpin. Tidak cukup pula hanya memiliki manajer. Sebuah lembaga pendidikan akan kuat apabila kepemimpinan, manajemen, dan ruh keguruan berjalan bersama,” jelasnya.

Menurut beliau, filosofi tersebut menjadi pelajaran penting bagi seluruh civitas Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido dalam membangun budaya kerja yang sehat dan berkelanjutan.

Guru Tidak Boleh Berhenti di Ruang Kelas

Pesan yang paling kuat dalam rapat kerja tahun ini adalah penegasan bahwa guru tidak boleh memandang tugasnya hanya sebatas mengajar di kelas.

Seorang guru memang memiliki tugas fungsional berupa mengajar, membimbing, melatih, mengevaluasi, dan mendampingi santri. Namun kemajuan lembaga tidak akan tercapai apabila seluruh guru hanya berhenti pada tugas tersebut.

“Kemajuan pesantren tidak cukup hanya bertumpu pada kualitas guru di dalam kelas. Guru juga harus mengambil bagian dalam membangun sistem, organisasi, dan kepemimpinan lembaga,” tegas beliau.

Karena itu, jabatan struktural bukan dipahami sebagai tambahan beban administratif semata, melainkan ruang bagi guru untuk belajar menjadi pemimpin sekaligus manajer pendidikan.

Guru yang mengemban amanah di bidang keamanan, pengasuhan, akademik, hingga administrasi tetap dituntut menjalankan fungsi kependidikannya. Sebaliknya, guru yang fokus mengajar juga perlu memiliki kepedulian terhadap perkembangan organisasi.

Menurut beliau, kedua peran tersebut tidak dapat dipisahkan.

Menjadi Guru Berarti Siap Melakukan Apa Saja

Dalam suasana yang hangat, beliau juga mengingatkan para guru pengabdian agar tidak membatasi diri hanya pada satu bidang pekerjaan.

“Jangan berkata, ‘Saya hanya mengajar.’ Menjadi guru berarti siap membantu apa pun yang dibutuhkan lembaga.”

Semangat itulah yang selama ini menjadi ciri khas pendidikan pesantren. Guru bukan sekadar penyampai ilmu, tetapi juga pendidik, pembimbing, administrator, pelayan santri, hingga penggerak perubahan.

Semakin banyak seorang guru bersentuhan langsung dengan kehidupan santri, semakin besar pula kontribusinya terhadap kemajuan pesantren.

“Hidupilah Pesantren, Jangan Hanya Hidup dari Pesantren”

Salah satu falsafah yang kembali ditegaskan dalam rapat kerja adalah kalimat yang telah lama dikenal di dunia pesantren:

“Hidupilah pesantren, jangan hanya hidup dari pesantren.”

Menurut Khadimul Ma’had, kalimat tersebut kerap disalahpahami.

Beliau menjelaskan bahwa sebelum guru diminta menghidupi pesantren, justru pesantren terlebih dahulu memiliki kewajiban untuk menghidupi guru. Lembaga bertanggung jawab meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan, pembinaan, dan pengembangan kompetensi.

Karena itu, guru tidak boleh merasa cukup hanya dengan memperoleh penghasilan, tempat tinggal, atau fasilitas dari pesantren. Guru harus terus bertumbuh agar mampu memberikan manfaat yang lebih besar bagi lembaga.

“Jangan hanya berjasa, tetapi berhentilah berkembang. Justru setelah mengabdi, guru harus semakin bertumbuh.”

Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan komitmen pesantren untuk terus mendorong peningkatan kualifikasi akademik guru sebagai bagian dari strategi peningkatan mutu pendidikan.

Pengabdian Adalah Menyelesaikan Amanah

Menjelang akhir pengarahan, beliau memberikan ilustrasi sederhana mengenai makna pengabdian.

Seorang guru yang memberikan tugas kepada murid akan tetap meminta pertanggungjawaban atas tugas tersebut, meskipun murid sedang sakit atau berhalangan hadir. Demikian pula seorang guru pengabdian.

Menurut beliau, pengabdian bukan diukur dari mudah atau sulitnya tugas, melainkan dari kesungguhan menyelesaikan amanah hingga tuntas.

“Mungkin hasilnya belum sempurna. Nilainya belum tinggi. Tetapi selama amanah itu diselesaikan dengan sungguh-sungguh, itulah bentuk pengabdian.”

Beliau mengingatkan bahwa setiap amanah yang belum ditunaikan akan selalu menjadi tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan. Karena itu, menyelesaikan tugas dengan penuh tanggung jawab menjadi cerminan integritas seorang guru.

Menyongsong Tahun Ajaran dengan Semangat Baru

Rapat Kerja Tahunan Tahun Ajaran 2026–2027 menjadi penanda dimulainya babak baru perjalanan Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido. Di balik pembacaan surat keputusan dan penyusunan struktur organisasi, tersimpan pesan yang lebih mendasar: membangun lembaga pendidikan memerlukan guru yang tidak hanya cakap mengajar, tetapi juga memiliki jiwa kepemimpinan, kemampuan manajerial, semangat kolaborasi, dan komitmen pengabdian yang terus bertumbuh.

Melalui semangat regenerasi, evaluasi, dan penguatan budaya organisasi, seluruh guru dan tenaga kependidikan diharapkan mampu menjadikan setiap amanah sebagai bagian dari ibadah serta menghadirkan pendidikan yang tidak hanya melahirkan santri yang berilmu, tetapi juga generasi yang berkarakter, mandiri, dan siap menghadapi tantangan zaman.