Langkah besar tidak pernah lahir secara tiba-tiba. Ia disiapkan melalui proses panjang, penuh kesungguhan, dan keberanian untuk melangkah lebih jauh. Di balik semua itu, selalu ada dorongan sederhana yang menjaga langkah tetap berjalan: keberanian untuk mencoba dan membuktikan bahwa ilmu yang dipelajari tidak berhenti di ruang kelas.
Semangat itulah yang mengawali perjalanan Fitrur Rahman Albabil Umam, alumni Angkatan ke-20 Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido. Saat ini, ia melanjutkan studi di Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Indonesia (UII), sebagai penerima Beasiswa Santri Unggulan UII.

Kesempatan berharga itu hadir melalui Program Pengabdian Masyarakat Internasional yang dikonversi ke dalam bentuk Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mandiri, bekerja sama dengan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Taiwan. Dalam program tersebut, Fitrur bergabung bersama lima mahasiswa penerima beasiswa santri unggulan UII dari berbagai program studi. Mereka hadir sebagai tim pengabdian sekaligus peneliti, membawa latar belakang kepesantrenan yang memberi warna tersendiri dalam setiap peran yang dijalankan.
Perjalanan ini tidak sekadar menjadi mobilitas akademik. Lebih dari itu, ia menjadi ruang aktualisasi, tempat nilai-nilai pondok diuji, dipraktikkan, dan menemukan relevansinya dalam kehidupan nyata.
Taiwan dipilih bukan tanpa alasan. Negara ini merupakan salah satu tujuan utama pekerja migran Indonesia, dengan jumlah WNI yang mencapai hampir 400.000 orang, dan sekitar 88 persen di antaranya beragama Islam. Di balik angka tersebut, terdapat realitas yang tidak sederhana: keterbatasan akses ibadah, minimnya pendampingan keagamaan, hingga tekanan hidup sebagai perantau. Di titik inilah pengabdian menemukan maknanya.
Namun, jalan menuju pengabdian itu tidak sepenuhnya mulus. Perjalanan dimulai dari upaya sederhana: menghubungi sejumlah mitra di luar negeri. Jepang, Korea Selatan, hingga Taiwan sempat menjadi tujuan komunikasi awal. Tidak semua memberikan respons, dan hanya PCINU Taiwan yang membuka pintu kolaborasi. Dari satu pintu itulah, langkah berikutnya mulai disusun.
Tim kemudian dibentuk, dosen pembimbing dihubungi, dan proposal mulai diajukan. Di tengah proses itu, muncul keputusan yang tidak mudah: meninggalkan KKN reguler yang lebih pasti dan memilih jalur mandiri yang penuh ketidakpastian.
“Waktu itu sebenarnya ada pilihan yang lebih aman. Tinggal ikut KKN biasa, selesai. Tapi rasanya ada dorongan untuk mencoba sesuatu yang lebih jauh, meskipun belum tahu akan seperti apa hasilnya.”
Keputusan tersebut tentu bukan tanpa konsekuensi. Risiko kelulusan yang tertunda mulai terasa. Belum lagi persoalan pendanaan yang tidak sedikit, karena program ini membutuhkan biaya hingga puluhan juta rupiah. Pada tahap awal, belum ada kepastian dari mana seluruh kebutuhan itu akan terpenuhi.

Berbagai upaya pun dilakukan. Mulai dari pengajuan bantuan ke internal kampus, mencari donatur eksternal, hingga berjualan barang bekas untuk menambah kas kelompok. Tantangan berikutnya datang dari proses pengurusan visa yang sempat mengalami kendala. Dokumen harus diperbaiki, persyaratan dilengkapi, bahkan penolakan sempat terjadi sehingga keberangkatan terasa menggantung.
Waktu terus berjalan, sementara kepastian belum juga datang. Hingga akhirnya, dua minggu sebelum keberangkatan, visa yang dinantikan itu terbit. Momen tersebut bukan sekadar kabar baik, melainkan titik di mana seluruh proses panjang seolah menemukan jawabannya.
Nilai-nilai yang dahulu ditanamkan di pesantren—tentang kesabaran, kesungguhan, dan tawakal—perlahan menemukan konteks nyatanya.
“Kalau diingat lagi, mungkin ini salah satu momen di mana apa yang dulu sering didengar di pesantren mulai terasa nyata. Salah satunya adalah pesan yang sering diungkapkan oleh al-magfurlah KH. Drs. Ahmad Dimyati: Fa idza ‘azamta fatawakkal ‘alallah (Jika engkau telah bertekad, maka bertawakkallah kepada Allah).”
Setibanya di Taiwan, pengabdian dijalankan bersama PCINU Taiwan yang selama ini menjadi wadah penting bagi diaspora Indonesia, khususnya para pekerja migran. Fokus kegiatan diarahkan pada pemberdayaan masyarakat diaspora Indonesia melalui pendekatan spiritual, sosial, dan edukatif.
Keseharian diisi dengan aktivitas sederhana namun bermakna, seperti salat berjamaah dan tadarus Al-Qur’an. Dalam beberapa kesempatan, mahasiswa juga diberi kepercayaan untuk mengambil peran sebagai imam. Pengalaman ini tidak hanya melatih tanggung jawab, tetapi juga membentuk kepemimpinan.
Selain itu, keterlibatan juga diwujudkan dalam berbagai aktivitas lain, mulai dari mengajar di TPQ Al-Mustaqimiyah bagi anak-anak diaspora hingga terlibat dalam proses pemulasaran jenazah WNI di Taiwan. Rangkaian kegiatan ini menghadirkan pengalaman yang bukan hanya praktis, tetapi juga menumbuhkan empati sosial dan kesadaran akan makna pengabdian.

Melalui program Safari Dakwah dan Ranting, perjalanan berlanjut ke berbagai ranting PCINU di Taiwan, seperti Keelung, Taipei, Taoyuan, dan Guanyin. Di ruang-ruang sederhana seperti musala dan sekretariat PCINU, berlangsung kajian-kajian yang menyentuh langsung realitas kehidupan para pekerja migran.
Dalam konteks ini, hadir kontribusi kecil berupa praktik komunikasi dakwah tematik yang menjadi bagian penting dari program pengabdian. Pendekatan yang digunakan tidak hanya bertumpu pada penyampaian materi keagamaan secara normatif, tetapi juga mengintegrasikan teori-teori sosial dengan turats atau khazanah kitab klasik pesantren. Materi kajian dikontekstualisasikan dengan kondisi psikososial jamaah, mulai dari kerinduan terhadap keluarga, tekanan hidup di perantauan, hingga kebutuhan akan ketenangan batin.
Ayat-ayat tasliyah (penghibur) serta nilai-nilai dari kitab-kitab klasik dihadirkan sebagai bentuk religious coping, yaitu menjadikan agama sebagai sumber penguatan mental dan spiritual. Metode yang digunakan pun bersifat interaktif, bukan sekadar ceramah satu arah, tetapi juga membuka ruang dialog dan berbagi pengalaman. Dengan demikian, kajian tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga reflektif dan relevan dengan kehidupan jamaah.
Antusiasme peserta menunjukkan bahwa dakwah yang kontekstual dan komunikatif memiliki daya jangkau yang lebih dalam. Di sinilah terlihat bahwa bekal komunikasi yang dipadukan dengan tradisi keilmuan pesantren mampu menjawab kebutuhan umat secara nyata.
Kontribusi tidak berhenti pada praktik dakwah secara langsung. Dakwah juga diwujudkan melalui media. Pembuatan video pengenalan Islam serta tutorial wudu dan salat menjadi bagian dari upaya menghadirkan pembelajaran yang lebih mudah diakses, khususnya bagi mualaf dan masyarakat diaspora. Langkah ini menunjukkan bahwa dakwah di era kini tidak dapat dipisahkan dari peran media, serta menuntut kemampuan komunikasi yang adaptif dan kreatif.
Seluruh perjalanan ini pada akhirnya memperlihatkan satu hal yang sangat jelas: ke mana pun seseorang pergi, yang benar-benar ia bawa adalah nilai-nilai yang telah ditanamkan sejak di pesantren.
Proses yang panjang, perjuangan yang tidak ringan, hingga berbagai ketidakpastian yang sempat dilalui perlahan menemukan maknanya. Ada lelah yang dirasakan, ada ragu yang sempat hadir. Namun ketika semua itu terlewati, terasa satu hal yang sulit dijelaskan dengan sederhana: setiap proses memiliki manisnya sendiri. Sebagaimana ungkapan yang sering didengar, wa ma al-ladzatu illa ba’da at-ta‘ab — tidak ada kenikmatan kecuali setelah kelelahan.
Manis itu tidak hanya hadir dalam bentuk pengalaman, tetapi juga dalam hasil yang bahkan tidak selalu terbayangkan sebelumnya. Program yang semula diproyeksikan membutuhkan biaya puluhan juta rupiah, pada akhirnya justru dapat dijalankan dengan sangat ringan. Bahkan, hampir seluruh anggota tim tidak perlu mengeluarkan biaya pribadi secara signifikan, dan dalam prosesnya justru terdapat surplus dari hasil ikhtiar yang dilakukan bersama.
Dalam salah satu refleksinya, Fitrur Rahman menyampaikan bahwa pengalaman ini bukan semata hasil dari usaha pribadi.
“Kalau dipikir-pikir, ini juga bagian dari keberkahan yang dirasakan dari Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido. Dari doa tulus para guru dan masyayikh. Apa yang didapat hari ini, rasanya hanya sebagian kecil. Di luar sana, mungkin ada ribuan cerita lain dari para santri dan alumni yang juga sedang berjalan. Ini hanya bagian kecil dari tahadduts bin ni‘mah yang bisa dirasakan.”
Nilai-nilai itulah yang kemudian terasa hidup dalam setiap langkah. Di Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido diajarkan bahwa bahasa adalah mahkota pesantren. Prinsip ini menjadi nyata ketika komunikasi menjadi kunci dalam menyampaikan dakwah dan menjalin hubungan lintas budaya di tengah masyarakat diaspora.

Salah satu pesan yang terasa kuat dalam perjalanan ini adalah: “Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu.” Kesadaran inilah yang menjadi sumber kekuatan, baik dalam menghadapi proses yang panjang maupun dalam menjalani pengabdian di tengah berbagai keterbatasan.
Pada akhirnya, apa yang ditanam itulah yang akan dipetik: man yazra‘ yahsud. Seluruh proses belajar, berjuang, dan mengabdi perlahan menunjukkan hasilnya. Bukan hanya dalam bentuk capaian, tetapi juga dalam cara pandang yang lebih luas terhadap kehidupan dan pengabdian.
Perjalanan ini menjadi pengingat bahwa santri tidak hanya disiapkan untuk ruang lokal. Nilai-nilai yang ditanamkan di pesantren memiliki daya jangkau yang jauh lebih luas—bahkan hingga ke panggung dunia. (red: fitrur)
