DaarulUluumLido – Pergantian tahun ajaran di sebuah lembaga pendidikan bukan sekadar pergantian kalender akademik. Di baliknya terdapat proses evaluasi, penyusunan strategi, hingga peneguhan kembali visi besar yang akan menjadi arah perjalanan lembaga selama satu tahun ke depan. Semangat itulah yang mewarnai Rapat Kerja Tahunan Dewan Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pegawai Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido Tahun Ajaran 2026–2027 yang diselenggarakan pada Ahad, 28 Juni 2026.

Kegiatan Sesi Kedua yang diikuti seluruh dewan guru, tenaga kependidikan, dan pegawai pesantren ini menjadi forum strategis untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program tahun sebelumnya sekaligus menyusun langkah-langkah baru guna meningkatkan kualitas pendidikan, pengasuhan, serta tata kelola kelembagaan pesantren.

Rangkaian agenda dimulai dengan pembukaan, dilanjutkan dengan Irsyadat wa Taujihat dari Khadimul Ma’had, pembacaan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) tahunan para direktur bidang, serah terima jabatan, pembacaan tugas pokok dan fungsi (tupoksi), pembacaan kode etik pesantren, sarasehan dan rapat dengar pendapat, hingga ditutup dengan acara kebersamaan berupa Teacher & Employee Awards, hiburan, serta undian umrah bagi guru dan pegawai.

Namun lebih dari sekadar rangkaian agenda administratif, rapat kerja tahun ini menghadirkan sejumlah gagasan strategis yang menegaskan arah pengembangan Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido di masa mendatang.

Menjaga Nilai Menyempurnakan Sistem Raker Tahunan Daarul Uluum Lido Menata Langkah Besar Menuju Tahun Ajaran 2026%E2%80%932027 2
Rapat kerja tahunan daarul ‘uluum lido sesi 2

Raker Bukan Sekadar Agenda Tahunan

Dalam sambutannya, Khadimul Ma’had menegaskan bahwa rapat kerja tahun ini memang difokuskan sebagai forum kerja, bukan kegiatan upgrading atau pelatihan guru.

Meski demikian, beliau menegaskan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia tetap menjadi perhatian utama pesantren.

“Kita hanya melaksanakan rapat kerja. Adapun program-program peningkatan kompetensi guru akan tetap direncanakan dan disusun secara bertahap sesuai kebutuhan yang benar-benar ditemukan di lapangan.”

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa setiap program pengembangan guru nantinya tidak dilakukan sekadar mengikuti tren, melainkan berdasarkan hasil analisis kebutuhan yang objektif sehingga mampu memberikan dampak nyata terhadap peningkatan mutu pendidikan.

Evaluasi Menjadi Fondasi Perbaikan

Salah satu fokus utama rapat kerja adalah penyampaian laporan pertanggungjawaban dari para direktur bidang yang telah menyelesaikan masa amanahnya.

Namun, penyampaian laporan dilakukan secara efektif. Hanya poin-poin strategis yang dibacakan dalam forum, sedangkan laporan lengkap tetap dibagikan secara tertulis kepada seluruh jajaran direksi dan guru.

Langkah ini dilakukan agar waktu rapat dapat dimanfaatkan lebih banyak untuk membahas substansi perbaikan dibandingkan hanya membaca laporan administratif.

Setelah laporan pertanggungjawaban, kegiatan dilanjutkan dengan serah terima jabatan beserta penandatanganan berita acara sebagai simbol kesinambungan kepemimpinan dan keberlanjutan program kerja di setiap bidang.

Tidak berhenti di sana, seluruh guru juga kembali menerima pembaruan tugas pokok dan fungsi sesuai struktur organisasi terbaru yang telah disusun pesantren. Walaupun tidak seluruh dokumen dibacakan satu per satu, seluruhnya telah dipersiapkan secara tertulis agar menjadi pedoman kerja bagi setiap guru dan pegawai.

Meneguhkan Budaya Profesional Melalui Kode Etik

Salah satu sesi yang mendapat perhatian khusus adalah pembacaan kembali kode etik pesantren.

Bagi Daarul ‘Uluum Lido, profesionalisme bukan hanya diukur dari kemampuan mengajar, tetapi juga dari karakter, etika, serta sikap keseharian seluruh civitas pesantren.

Melalui pembacaan kode etik tersebut, seluruh guru kembali diingatkan mengenai hak, kewajiban, tanggung jawab, serta nilai-nilai yang harus dijaga selama mengemban amanah pendidikan.

Budaya kerja yang sehat diyakini tidak lahir hanya dari aturan, tetapi juga dari kesadaran bersama untuk menjaga marwah lembaga.

Sarasehan: Ruang Terbuka untuk Membangun Pesantren Bersama

Berbeda dengan forum rapat formal pada umumnya, sesi sarasehan dirancang lebih santai dan komunikatif.

Seluruh guru dipersilakan menyampaikan kritik, saran, masukan, maupun evaluasi terhadap berbagai aspek penyelenggaraan pesantren.

Diskusi difokuskan pada tiga bidang utama, yaitu:

  • Pengajaran.
  • Kesantrian dan pengasuhan.
  • Sarana serta prasarana.

Forum ini menjadi ruang dialog yang sehat, karena setiap peserta diberi kesempatan untuk menyampaikan pandangan secara terbuka demi kemajuan pesantren.

Selain itu, dalam sesi ini juga dipresentasikan hasil evaluasi penyelenggaraan ujian beberapa tahun terakhir sebagai bahan refleksi bersama. Data capaian santri yang ditampilkan diharapkan tidak hanya menjadi dokumentasi, tetapi menjadi dasar penyusunan kebijakan akademik pada tahun-tahun berikutnya.

Semangat yang dibangun adalah bahwa setiap kebijakan harus lahir dari data, pengalaman lapangan, dan kebutuhan nyata, bukan sekadar asumsi.

Bersiap Menyambut Tahun Ajaran Baru

Dalam arahannya, Khadimul Ma’had juga mengingatkan seluruh guru mengenai padatnya agenda menjelang dimulainya tahun pelajaran baru.

Seluruh guru diminta kembali ke pesantren paling lambat 8 Juli 2026, sebelum kedatangan pengurus baru pada 9 Juli. Selanjutnya, 10 Juli dijadwalkan sebagai kedatangan santri baru, sedangkan 11–12 Juli merupakan jadwal kedatangan santri lama.Artinya, seluruh persiapan mulai dari ruang kelas, pembagian rombongan belajar, data administrasi, hingga kesiapan asrama harus telah diselesaikan sebelum para santri kembali memasuki lingkungan pesantren. Beliau menegaskan bahwa waktu persiapan yang relatif singkat menuntut seluruh civitas bekerja secara cepat, terkoordinasi, dan penuh tanggung jawab.

“Tidak ada ruang untuk menunda pekerjaan ketika tahun ajaran baru sudah di depan mata.”

Lebih jauh lagi, berbagai kegiatan pembuka tahun ajaran seperti Masa Pengenalan dan Orientasi Pesantren (MPOP), koordinasi kepanitiaan, hingga rangkaian Milad pesantren juga diminta mulai dipersiapkan sejak dini agar seluruh agenda dapat berjalan secara optimal.

Menimbang Kebijakan Baru demi Kesejahteraan Guru

Selain membahas evaluasi program kerja, rapat tahunan ini juga menjadi momentum untuk menyampaikan beberapa wacana kebijakan strategis yang menyentuh kesejahteraan guru dan pegawai.

Salah satu yang mendapat perhatian adalah rencana percepatan pembayaran honorarium. Jika selama ini honorarium diberikan setiap tanggal 10, pesantren tengah mengkaji kemungkinan agar pembayaran dapat dilakukan pada tanggal 1 setiap bulan.

Khadimul Ma’had menegaskan bahwa kebijakan tersebut masih berada pada tahap kajian dan belum menjadi keputusan final. Namun, penyampaian wacana ini menunjukkan adanya komitmen pesantren untuk terus meningkatkan pelayanan kepada seluruh tenaga pendidik dan kependidikan.

“Ini masih berupa ikhtiar dan perencanaan. Jika Allah memudahkan, tentu akan menjadi langkah yang baik bagi kesejahteraan guru dan pegawai,” ungkapnya.

Pernyataan tersebut disambut positif oleh para peserta rapat sebagai bentuk keterbukaan pimpinan dalam menyampaikan arah kebijakan lembaga.

Membangun Sistem yang Lebih Adil dan Dipahami Bersama

Salah satu pembahasan yang cukup panjang dalam rapat adalah evaluasi mengenai sistem perhitungan jam mengajar atau yang selama ini dikenal dengan istilah jam hidup dan jam mati.

Alih-alih langsung menetapkan perubahan kebijakan, pimpinan pesantren mengajak seluruh guru untuk terlebih dahulu memahami filosofi di balik kedua sistem tersebut.

Beliau menilai bahwa selama beberapa tahun terakhir masih terdapat perbedaan pemahaman dalam implementasi sistem, sehingga sering kali menimbulkan kebingungan ketika menghadapi kondisi tertentu, seperti masa ujian, libur efektif, maupun penggantian jam mengajar.

Karena itu, sebelum menentukan arah kebijakan berikutnya, seluruh guru diajak berdiskusi secara terbuka dalam forum sarasehan.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa kebijakan di lingkungan pesantren tidak dibangun secara sepihak, melainkan melalui proses musyawarah dan pertimbangan yang matang agar setiap keputusan benar-benar dapat dipahami dan dijalankan bersama.

Efisiensi Organisasi untuk Meningkatkan Profesionalisme

Rapat kerja juga menyoroti tata kelola kepanitiaan berbagai kegiatan pesantren.

Pimpinan menyampaikan bahwa ke depan perlu dilakukan penataan ulang terhadap pemberian insentif kepanitiaan, khususnya untuk kegiatan yang tidak memiliki sumber pendanaan yang jelas.

Menurutnya, banyak kegiatan sejatinya telah menjadi bagian dari tugas pokok masing-masing bidang sehingga pelaksanaannya merupakan bentuk tanggung jawab profesional, bukan pekerjaan tambahan yang selalu memerlukan insentif khusus.

Selain itu, pesantren juga mulai mendorong peningkatan peran santri dalam berbagai kepanitiaan.

Guru diharapkan lebih berperan sebagai pembimbing, pengarah, dan pengawas (steering committee), sedangkan pelaksanaan teknis kegiatan secara bertahap diberikan kepada para santri agar mereka memperoleh pengalaman berorganisasi, memimpin, dan bertanggung jawab.

Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari proses pendidikan karakter yang selama ini menjadi ciri khas pendidikan pesantren.

Menjaga Tradisi, Menyempurnakan Masa Depan

Pada penghujung sambutan, Khadimul Ma’had mengajak seluruh peserta melihat perjalanan pendidikan Islam melalui sejarah organisasi dan pesantren besar di Indonesia.

Beliau menyinggung semangat Islam Berkemajuan yang menjadi karakter Muhammadiyah, kemudian prinsip Al-Muhafazhah ‘ala al-Qadim ash-Shalih wal Akhdzu bil Jadid al-Ashlah yang dikenal dalam tradisi Nahdlatul Ulama, yakni menjaga tradisi lama yang baik sekaligus mengambil pembaruan yang lebih baik.

Selanjutnya beliau mengutip pemikiran para pendiri Pondok Modern Gontor yang memiliki semangat serupa.

Menurut beliau, kekuatan sebuah lembaga pendidikan tidak terletak pada kemampuannya mempertahankan sistem secara kaku, melainkan pada keberanian melakukan penyempurnaan tanpa kehilangan nilai-nilai dasarnya.

Beliau mengingatkan bahwa metode pembelajaran, sistem administrasi, hingga berbagai pendekatan pendidikan akan selalu mengalami perkembangan seiring perubahan zaman.

Namun demikian, nilai-nilai dasar pesantren seperti keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, ukhuwah, kedisiplinan, dan kebebasan yang bertanggung jawab harus tetap menjadi fondasi yang tidak boleh ditinggalkan.

“Nilainya jangan berubah. Yang terus disempurnakan adalah cara kita menjalankannya.”

Pesan tersebut menjadi benang merah seluruh rangkaian rapat kerja tahun ini. Modernisasi bukan berarti meninggalkan tradisi, sebagaimana mempertahankan tradisi bukan berarti menolak perubahan. Keduanya justru harus berjalan beriringan agar pesantren mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.

Raker sebagai Titik Awal, Bukan Titik Akhir

Lebih dari sekadar agenda tahunan, Rapat Kerja Dewan Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pegawai Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido Tahun Pelajaran 2026–2027 menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam membangun lembaga yang semakin profesional, adaptif, dan tetap berakar pada nilai-nilai kepesantrenan.

Evaluasi yang dilakukan tidak berhenti pada pencarian kekurangan, tetapi diarahkan menjadi pijakan untuk melahirkan berbagai penyempurnaan. Begitu pula setiap kebijakan baru tidak dimaksudkan sebagai perubahan semata, melainkan sebagai ikhtiar agar pelayanan pendidikan kepada para santri semakin berkualitas.

Dengan semangat kolaborasi seluruh guru, tenaga kependidikan, dan pegawai, Daarul ‘Uluum Lido menatap tahun ajaran baru dengan optimisme. Sebab, keberhasilan sebuah pesantren tidak hanya ditentukan oleh besarnya program yang dirancang, tetapi oleh kesungguhan seluruh warganya dalam menjalankan amanah pendidikan secara istiqamah.

Rapat kerja pun akhirnya bukan sekadar forum evaluasi tahunan, melainkan menjadi titik awal lahirnya berbagai gagasan, penyempurnaan sistem, dan penguatan nilai yang akan mengantarkan Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido terus bertumbuh sebagai lembaga pendidikan Islam yang unggul, adaptif, dan relevan dalam menjawab tantangan masa depan.