Jakarta Barat — Ikatan Alumni Daarul ‘Uluum (IKADA) Jakarta bersama keluarga besar Pesantren Modern Daarul ’Uluum Lido menggelar Pengajian Hadrah Nailul Khoirot Azmiyah, Sabtu (14/2/2026), bertempat di Masjid Jami’ Al Muhtadin, Cengkareng, Jakarta Barat. Kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi alumni lintas angkatan sekaligus momentum konsolidasi menuju puncak doa syukuran dan Haul Akbar pendiri pesantren.
Acara dimulai sekitar pukul 14.00 WIB dan dihadiri para guru, alumni, serta jamaah umum. Sambutan pertama disampaikan oleh Ustadz Nur Hasan yang menyampaikan rasa terima kasih dan penghormatan secara khusus kepada guru kami, Khadimul Ma’had, atas bimbingan dan arahannya. “Insyaallah ke depan kita bisa kembali berkumpul di Jakarta Barat, di tempat yang lebih istimewa lagi,” ujarnya, yang diamini seluruh hadirin.

Satu Figur Sentral: K.H. Drs. Ahmad Dimyati
Dalam tausiyah utamanya, Khadimul Ma’had Kiai Mohammad Yazid Dimyati, S.Th.I., Lc., menegaskan bahwa pengajian dan silaturahmi ini diniatkan sebagai langkah besar untuk merangkul seluruh alumni santri K.H. Ahmad Dimyati tanpa pengecualian. Beliau menegaskan bahwa semuanya tetap bersandar pada satu figur sentral: K.H. Drs. Ahmad Dimyati.
Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar untuk memeriahkan peringatan milad pesantren, melainkan sebagai pengantar menuju puncak doa syukuran dan Haul Akbar yang akan diselenggarakan pada bulan Juni mendatang.
“Di momentum milad 30 tahun berdirinya Daarul ’Uluum Lido ini, kami ingin mengajak semua bukan untuk meramaikan miladnya—karena miladnya sudah berjalan—tetapi untuk meramaikan puncak doa syukuran bersama Haul Akbar di bulan Juni,” tutur Kiai Yazid.
Ia juga menitipkan pesan agar undangan Haul Akbar dapat disampaikan kepada seluruh alumni yang belum sempat hadir dalam kegiatan ini.

Jangan Menjadi Santri yang Hilang
Dalam pesannya kepada alumni, Kiai Yazid menekankan bahwa nilai seorang santri tidak pernah hilang di mata guru, apa pun profesi dan kondisi alumninya saat ini.
“Jangan menjadi santri yang hilang, bahkan yang menghilangkan diri. Karena bagi kiai kalian, kalian itu terlalu berharga untuk hilang,” tegasnya.
Menurutnya, keberhasilan alumni tidak selalu diukur dari jabatan atau posisi tertentu. Alumni yang belum memiliki peran menonjol di masyarakat pun tetap memiliki kedudukan yang sama sebagai santri di mata guru.
Pengajian Hadrah Nailul Khoirot Azmiyah
Dalam kesempatan tersebut, Kiai Yazid juga menjelaskan secara ringkas tentang Tarekat Azmiyah dan kitab Nailul Khoirot yang menjadi dasar pengajian dan hadrah. Ia menegaskan bahwa hadrah dan pembacaan shalawat tidak dimaksudkan sebagai pertunjukan semata, melainkan sebagai sarana pendalaman makna, penguatan kecintaan kepada Rasulullah SAW, serta penjagaan adab dalam berzikir.
Rencana Pendirian Career Center Alumni
Masih dalam rangkaian tausiyahnya, Kiai Yazid mengumumkan gagasan pendirian Career Center di lingkungan pesantren. Program ini dirancang sebagai ruang pendampingan bagi alumni yang tengah menghadapi kebuntuan, baik dalam mencari pekerjaan maupun melanjutkan pendidikan.
Ia menyampaikan bahwa gagasan tersebut masih dalam tahap konsep dan akan disosialisasikan lebih lanjut pada momentum Haul Akbar mendatang.

Sharing Alumni: Ilmu Pesantren Tetap Hidup
Sesi sharing alumni berlangsung hangat dan penuh keakraban. Sejumlah alumni dari berbagai angkatan membagikan pengalaman pengabdian mereka di masyarakat, dunia pendidikan, hingga pelayanan publik. Pengalaman-pengalaman tersebut menunjukkan bahwa nilai pesantren tetap hidup dan relevan dalam berbagai profesi.
Salah satu alumni, Ustadz Ahmad Kahfi, menyampaikan pesan yang sangat membekas dari Ustadz Ahmad Yani (yang menulis dengan nama pena Adian):
“Santri itu harus mewarnai, jangan diwarnai. Artinya, jangan mudah terpengaruh, tapi harus memberi pengaruh. Walaupun hanya mengajar iqra’, alif ba’ ta’, itu adalah pondasi untuk mewarnai masyarakat.”
Sementara itu, alumni lainnya, Iwan Setiawan, berpesan agar para alumni terus berkontribusi dalam memajukan pesantren.
“Pesan saya kepada teman-teman, nanti ketika sudah berkeluarga, ayo kita majukan pondok kita. Kita sudah merasakan indahnya mondok. Kalau bisa, anak-anak kita dimasukkan ke pondok, khususnya Pesantren Modern Daarul ’Uluum Lido,” ujarnya.

Pesan Asatidz dan Penutup
Sejumlah guru yang hadir, di antaranya Ustadz Mohammad Affan Afifi, S.H.I., Ustadz. Kasman, S.Pd., Ustadz. Asep Sugandi, S.Pd., Ustadz. Drs. Ahmad Yani, M.Pd.I., serta Majelis Kehormatan Asatidz lainnya, turut menyampaikan pesan kepada alumni agar senantiasa menjaga persatuan dan tidak melupakan guru.
Salah satu asatidz mengingatkan bahwa proses belajar tidak pernah selesai dan identitas sebagai santri melekat sepanjang hayat.
Acara ditutup dengan doa bersama untuk para guru yang telah wafat, keberkahan pesantren, serta keselamatan dan keberhasilan seluruh alumni. Seusai doa, jamaah saling bersalaman dan berfoto bersama dengan keluarga besar Pesantren Modern Daarul ’Uluum Lido, menandai berakhirnya kegiatan dalam suasana penuh kehangatan.
Pengajian Hadrah Nailul Khoirot Azmiyah ini menegaskan bahwa Pesantren Modern Daarul ’Uluum Lido bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan rumah ruhani yang terus hidup dalam ikatan guru dan alumni, serta menguatkan sanad keilmuan lintas generasi. (red: silah)
