Lido – Senin pagi, 6 April 2026, Lapangan Utama Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido kembali dipenuhi barisan santri usai libur panjang Hari Raya Idul Fitri. Bukan sekadar apel rutin pasca liburan, momen ini menjadi ruang renungan bersama—tentang niat, tentang fokus, dan tentang makna sebenarnya dari menuntut ilmu di pertengahan semester dua.


Khadimul Ma’had, Kiai M. Yazid Dimyati, S.Th.I., Lc, berdiri di hadapan ribuan santri yang baru saja melepas rindu dengan kampung halaman. Bersama para asatidz dan seluruh santriwan-santriwati, apel pagi yang dimulai pukul 07.00 WIB itu berlangsung khidmat.

Kembali ke Pondok: Sebuah Perjuangan yang Tak Ringan

Para Santri Putri Mengikuti Kegiatan Upacara Dengan Tertib
Para santri putri mengikuti kegiatan upacara dengan tertib

Kiai Yazid menegaskan bahwa kembali ke pesantren setelah libur panjang bukanlah perkara biasa. Ia adalah bentuk perlawanan terhadap rasa malas, godaan, serta bisikan nafsu yang ingin menjauhkan santri dari ilmu. Setiap santri yang hadir pada apel pagi itu, menurutnya, telah memenangkan satu pertempuran kecil: memilih ilmu dibandingkan keasyikan dunia.

“Kembali ke pondok itu luar biasa berat rasanya. Maka sesungguhnya antum di pondok ini sudah melawan hawa nafsu antum, melawan nafsu syaithan. Karena di antara nafsu syaithan adalah menjadikan umat ini bodoh akan agamanya dan bodoh akan ilmunya,” ujar Kiai Yazid.

Libur panjang, dalam pandangan beliau, adalah ujian tersembunyi yang bisa menjadi ruang penyegaran sekaligus zona pelalaian. Karena itu, ujian pertama seorang penuntut ilmu adalah istiqomah—yang salah satu wujudnya adalah fokus dalam mencari, menyerap, dan memahami ilmu. Tanpa itu, semua pelajaran yang diberikan hanya akan menguap tanpa makna.

Jangan Tawar-Menawar dalam Menuntut Ilmu

Khadimul Ma'Had Selaku Pembina Upacara Menyampaikan Amanat Upacara
Khadimul ma’had selaku pembina upacara menyampaikan amanat upacara

Khadimul Ma’had menekankan bahwa tidak ada pelajaran yang tidak menarik. Apa pun yang diajarkan di pesantren—baik pelajaran negeri maupun pelajaran pondok—semuanya memiliki nilai dan manfaatnya sendiri. Persoalannya bukan suka atau tidak suka, melainkan kesediaan untuk menyerap tanpa pilih-pilih.

“Semua ilmu yang diserap dan diajarkan di pondok ini, makan saja. Paham tidak paham, makan. Tidak hari ini santri bisa merasakan lezat dan gizinya ilmu itu. Tidak hari ini,” pesan beliau.

Ia memperingatkan bahwa jika seorang santri tidak bergizi dalam hal pikiran, akal, dan ilmu, maka khawatir kelak ia akan kekurangan keterampilan dan mental saat harus berdiri mandiri selepas dari pesantren.

Manusia Adalah Guru, Bukan Teknologi

Dewan Asatidz Mengikuti Kegiatan Apel Dengan Khidmat
Dewan asatidz mengikuti kegiatan apel dengan khidmat

Di tengah gempuran kecerdasan buatan yang semakin masif, Khadimul Ma’had mengingatkan satu hal yang prinsipil: secanggih apa pun AI, ia tidak akan pernah bisa menjadi guru. Teknologi mungkin bisa membuat seseorang pintar, tetapi tidak bisa menggantikan peran guru yang berwujud manusia—yang memberi teladan, menyentuh hati, dan mendoakan murid-muridnya.

“Apa jadinya kalau kemudian kita manusia menjadi budak dari sebuah teknologi? Justru teknologi yang harus menjadi budak bagi kita. Kitalah yang menciptakan, namun kenapa kita menjadi budak?” ujar beliau.

Karena itu, para santri diajak melatih mata, pikiran, dan telinga untuk disibukkan dalam mencari ilmu, bukan setiap saat bertanya pada mesin pencari. Sebab di sanalah nilai perjuangan dan pengorbanan seorang santri sering kali hilang.

Daya Baca Tantangan Besar Generasi Z dan Alpha

Kelas Enam Mengikuti Ujian Akhir Madrasah (Uam)
Kelas enam mengikuti ujian akhir madrasah (uam)

Kepada para santri kelas 6 yang akan segera menghadapi ujian akhir madrasah, Kiai Yazid memberikan perhatian khusus. Sisa waktu yang ada di pondok sangat singkat dan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Jangan lagi memilah-milih pelajaran, semua harus dibaca. Daya bacaan harus meningkat.

“Tidak ada ukuran pencari ilmu melainkan berapa banyak dalam satu minggu dia bisa menghatamkan bacaan. Ini tantangan besar bagi generasi Z dan generasi Alpha, yaitu kuatul qira’ah — daya bacanya,” tegas beliau.

Mushafahah Bersama

Paras Santri Bermushafahah Dengan Para Asatidz
Paras santri bermushafahah dengan para asatidz

Apel pun ditutup dengan doa bersama. Kemudian suasana berubah menjadi hangat saat seluruh dewan asatidz dan ustadzah berdiri berjajar, siap bersalaman dengan para santri. Mushafahah pun dimulai—satu per satu santri berjalan tertib, mencium tangan guru-guru mereka, bersalaman dengan penuh hormat.

Momen ini menjadi penutup dari rangkaian apel pagi. Semoga Allah senantiasa melimpahkan keberkahan, kekuatan istiqomah, dan kemudahan dalam menuntut ilmu kepada seluruh keluarga besar Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido. (red:silah)