LIDO, BOGOR — Peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ di Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido, Bogor, menjadi momentum bagi para santri untuk memperkuat kecintaan kepada Rasulullah ﷺ melalui ilmu, amal, shalawat, dan keteladanan.

Pesan tersebut disampaikan Ustadz Syamsuddin Nur Makka dalam tabligh akbar yang digelar di Aula Multazam Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido, Selasa, 25 Agustus 2026.

Tanggal tersebut bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1448 Hijriah, yang dalam kalender pemerintah ditetapkan sebagai peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ sekaligus hari libur nasional.

Di hadapan pembina, dewan asatidz, santri, dan santriwati, Ustadz Syamsuddin menekankan bahwa peringatan Maulid seharusnya tidak berhenti pada seremoni. Menurutnya, Maulid merupakan kesempatan untuk mengenal Rasulullah ﷺ secara lebih dekat sehingga kecintaan kepada beliau dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Gara-gara kalian membuat acara Maulid, saya menjadi mengenal kekasih saya, Sayyidina Muhammad,” ujar Ustadz Syamsuddin saat memberikan apresiasi kepada panitia penyelenggara.

Ia menjelaskan, kecintaan kepada seseorang akan tumbuh melalui proses mengenal. Karena itu, semakin seorang Muslim mempelajari kehidupan, akhlak, perjuangan, dan ajaran Rasulullah ﷺ, semakin besar pula peluang untuk meneladani beliau.

Kisah Hasan bin Tsabit dan Keteladanan Rasulullah

Document Image
Document image

Salah satu bagian yang mendapat perhatian dalam tausiyah tersebut adalah kisah Hasan bin Tsabit, sahabat Rasulullah ﷺ yang dikenal sebagai penyair.

Ustadz Syamsuddin mengisahkan bagaimana pada masa awal dakwah Islam, pihak-pihak yang menentang Rasulullah ﷺ menggunakan berbagai cara untuk melemahkan dakwah, termasuk melalui syair dan ejekan.

Hasan bin Tsabit yang dikenal memiliki kemampuan bersyair kemudian diminta membuat syair untuk mencela Rasulullah ﷺ. Namun, sebelum melakukannya, Hasan memilih terlebih dahulu mengenal Rasulullah ﷺ secara langsung.

Pertemuan tersebut justru mengubah pandangannya.

Alih-alih menemukan kekurangan yang dapat dijadikan bahan celaan, Hasan bin Tsabit melihat kemuliaan pada diri Rasulullah ﷺ. Ia kemudian dikenal sebagai salah satu penyair yang membela Rasulullah melalui syair-syairnya.

Salah satu bait syair yang dinisbatkan kepadanya berbunyi:

وأحسن منك لم تر قط عيني وأجمل منك لم تلد النساء خلقت مبرأ من كل عيب كأنك قد خلقت كما تشاء

Syair tersebut menggambarkan kekaguman Hasan bin Tsabit terhadap keindahan dan kemuliaan Rasulullah ﷺ. Sumber-sumber mengenai Hasan bin Tsabit juga mencatat bait tersebut sebagai salah satu syair pujian yang terkenal.

Menurut Ustadz Syamsuddin, kisah tersebut mengandung pelajaran penting bagi kehidupan masyarakat saat ini: seseorang seharusnya tidak terburu-buru memberikan penilaian terhadap orang lain sebelum mengenalnya secara utuh.

Pesan itu dinilai relevan dengan kehidupan di era media sosial, ketika komentar dan penilaian dapat disampaikan dengan cepat meskipun seseorang belum mengetahui persoalan secara menyeluruh.

“Orang-orang zaman dahulu saja tidak mau menghina seseorang yang belum pernah mereka kenal. Sementara hari ini, banyak orang belum mengenal, belum pernah bertemu, tetapi komentarnya sudah luar biasa,” tuturnya.

Ilmu yang Diperoleh Harus Disertai Doa

Document Image
Document image

Selain berbicara mengenai kecintaan kepada Rasulullah ﷺ, Ustadz Syamsuddin juga menekankan pentingnya keseimbangan antara ikhtiar belajar dan doa.

Ia menjelaskan dua bentuk ilmu, yakni ilmu bil-kasbi dan ilmu bil-wahbi.

Ilmu bil-kasbi merupakan ilmu yang diperoleh melalui usaha manusia, seperti belajar, membaca, menghafal, mencatat, dan bersungguh-sungguh. Sementara ilmu bil-wahbi merupakan ilmu yang dipandang sebagai anugerah dari Allah SWT.

Menurutnya, kedua aspek tersebut tidak semestinya dipertentangkan. Seorang santri harus bersungguh-sungguh dalam belajar, tetapi pada saat yang sama tidak boleh meninggalkan doa, dzikir, dan wirid.

“Belajar adalah ikhtiar. Berdoa adalah bentuk penghambaan,” demikian pesan yang ditekankan dalam tausiyah tersebut.

Pesan tersebut sejalan dengan karakter pendidikan Daarul ‘Uluum Lido yang tidak hanya menekankan pendidikan agama, tetapi juga pendidikan akademik, pembinaan karakter, bahasa Arab dan Inggris, serta program Tahfizh Al-Qur’an.

Murajaah, Ujian Panjang Para Penghafal Al-Qur’an

Document Image
Document image

Khusus kepada para santri yang menekuni hafalan Al-Qur’an, Ustadz Syamsuddin mengingatkan pentingnya murajaah atau mengulang hafalan.

Ia mengajukan pertanyaan kepada para santri: mana yang lebih sulit, menghafal atau murajaah?

Menurutnya, tantangan seorang penghafal Al-Qur’an tidak berhenti ketika berhasil menyelesaikan hafalan. Justru setelah hafalan diperoleh, dibutuhkan konsistensi untuk menjaganya.

“Banyak orang cepat menghafal, tetapi juga cepat lupa,” katanya.

Karena itu, santri tidak perlu merasa malu jika harus mengulang hafalan berkali-kali. Setiap orang memiliki kemampuan berbeda dalam menghafal.

Yang menjadi ukuran, menurut pesan yang disampaikan, bukan semata-mata seberapa cepat seseorang memperoleh hafalan, melainkan seberapa kuat ia mampu mempertahankannya.

Pesan tersebut memiliki relevansi khusus dengan lingkungan Daarul ‘Uluum Lido yang memiliki program Takhossus Tahfizh Al-Qur’an dan menjadikan tahfizh serta murajaah sebagai bagian dari aktivitas pembinaan santri.

Ilmu Harus Melahirkan Amal

Ustadz Syamsuddin kemudian mengingatkan bahwa proses pendidikan tidak boleh berhenti pada penguasaan pengetahuan.

Ilmu, kata dia, harus melahirkan perubahan dalam perilaku.

Ia mengutip sebuah ungkapan:

العلم بلا عمل جنون، والعمل بلا علم لا يكون

“Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, sedangkan amal tanpa ilmu tidak akan benar.”

Pesan tersebut menegaskan bahwa ilmu dan amal merupakan dua hal yang saling melengkapi. Seseorang yang memiliki ilmu tetapi tidak mengamalkannya belum mencapai tujuan pendidikan secara utuh. Sebaliknya, amal yang dilakukan tanpa dasar ilmu juga berisiko tidak sesuai dengan tuntunan.

Karena itu, ilmu yang dipelajari santri diharapkan tercermin dalam kehidupan sehari-hari.

Belajar Al-Qur’an, misalnya, harus melahirkan kedekatan dengan Al-Qur’an. Belajar fikih harus mendorong kesungguhan dalam beribadah. Sementara belajar akhlak harus terlihat dalam sikap menghormati guru dan berinteraksi dengan sesama.

Mengenal Rasulullah melalui Warisan Ilmu

Document Image
Document image

Salah satu pesan utama dalam tabligh akbar tersebut adalah pentingnya menjaga hubungan dengan Rasulullah ﷺ melalui ilmu.

Ustadz Syamsuddin mengajak para santri memahami bahwa meskipun umat Islam saat ini tidak hidup sezaman dengan Rasulullah ﷺ, hubungan dengan beliau tetap dapat dibangun melalui warisan ilmu dan sunnah.

Hadis membantu umat mengenal ucapan dan ajaran Rasulullah ﷺ. Sirah memberikan gambaran perjalanan hidup beliau, sementara fikih membantu umat memahami tata cara beribadah berdasarkan tuntunan Islam.

Ilmu bahasa Arab, termasuk nahwu, sharaf, dan balaghah, juga menjadi perangkat penting untuk memahami khazanah keilmuan Islam.

“Ketika kita mempelajari warisan ilmu Rasulullah ﷺ, kita sedang mengikatkan diri kepada beliau,” demikian inti pesan yang disampaikan kepada para santri.

Dengan demikian, masa belajar di pesantren tidak seharusnya dipandang sebagai perjalanan yang selesai ketika seorang santri lulus. Tradisi membaca Al-Qur’an, menjaga hafalan, mempelajari sunnah, dan mengamalkan ilmu diharapkan terus berlanjut setelah mereka kembali ke tengah masyarakat.

Tiga Amalan yang Perlu Dijaga

Menjelang akhir tausiyah, Ustadz Syamsuddin mengingatkan para santri untuk menjaga tiga amalan sederhana dalam kehidupan sehari-hari, yakni sedekah, istighfar, dan shalawat.

Sedekah, menurutnya, dapat dilakukan sesuai kemampuan. Nilainya tidak semata-mata diukur dari jumlah, tetapi juga dari kepedulian dan keikhlasan.

Selanjutnya, istighfar menjadi pengingat bahwa manusia tidak lepas dari kesalahan. Kesalahan seharusnya mendorong seseorang untuk melakukan introspeksi, memperbaiki diri, meminta maaf, dan kembali kepada Allah SWT.

Sementara shalawat menjadi salah satu bentuk kecintaan umat Islam kepada Rasulullah ﷺ.

Ketiga amalan tersebut, kata dia, dapat menjadi kebiasaan yang terus dijaga para santri, baik selama berada di pesantren maupun ketika kelak terjun ke tengah masyarakat.

Doa untuk Masa Depan Santri

Pada penghujung acara, Ustadz Syamsuddin Nur Makka juga menyampaikan doa untuk para santri dan santriwati Daarul ‘Uluum Lido.

Ia mendoakan agar para santri memperoleh kesuksesan dunia dan akhirat, menjadi pemimpin yang baik, memiliki kejujuran, masa depan yang baik, serta mampu memberikan manfaat bagi agama, masyarakat, dan bangsa.

Doa juga ditujukan bagi orang tua para santri, baik yang masih sehat, sedang sakit, maupun yang telah meninggal dunia.

Ia berharap para santri senantiasa mendapat perlindungan dari berbagai pengaruh buruk yang dapat mengganggu masa depan generasi muda.

Maulid sebagai Momentum Memperkuat Keteladanan

Document Image
Document image

Tabligh akbar dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ tersebut pada akhirnya menempatkan Maulid bukan sekadar sebagai kegiatan seremonial, tetapi sebagai momentum untuk memperkuat hubungan umat Islam dengan Rasulullah ﷺ.

Pesan yang disampaikan Ustadz Syamsuddin menempatkan ilmu, doa, amal, dzikir, shalawat, dan keteladanan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kecintaan kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Bagi para santri, kecintaan kepada Rasulullah ﷺ tidak cukup diwujudkan melalui ungkapan atau lantunan shalawat. Kecintaan itu perlu diterjemahkan ke dalam kesungguhan belajar, menjaga Al-Qur’an, memperbaiki akhlak, menjalankan ibadah, serta mempelajari dan mengamalkan sunnah.

Pesan tersebut menjadi relevan dengan perjalanan pendidikan Daarul ‘Uluum Lido yang telah berdiri sejak 1996 dan memasuki tiga dasawarsa pengabdian pada 2026. Pesantren ini berada di kawasan Muara, Ciburuy, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, dan menyelenggarakan pendidikan yang mengintegrasikan pendidikan agama, akademik, serta pembinaan karakter santri.

Pada akhirnya, Maulid menemukan maknanya ketika keteladanan Rasulullah ﷺ tidak berhenti di ruang pengajian, tetapi hadir dalam perilaku sehari-hari.

Ilmu menjadi bekal untuk memahami kehidupan, sedangkan doa, amal, dan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ menjadi arah dalam menjalaninya. red:umar kustiadi