BOGOR — Memasuki 40 hari pertama kehidupan santri baru di lingkungan pesantren, Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido memperkuat komunikasi dengan orang tua melalui agenda Silaturrahim Pimpinan dan Pengasuh Pesantren bersama Wali Santri Baru Tahun Pelajaran 2026/2027, Minggu (30/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Aula Multazam tersebut menjadi forum evaluasi sekaligus komunikasi terbuka mengenai proses adaptasi santri baru. Sejumlah persoalan dibahas, mulai dari kemandirian, kesehatan, kemampuan membaca Al-Qur’an, perizinan pulang, laundry, perlengkapan santri, hingga pentingnya menjaga fokus selama mengikuti pendidikan di pesantren.
Pertemuan yang dimulai pukul 07.00 WIB itu sekaligus menegaskan pentingnya keterlibatan orang tua dalam mendukung proses pendidikan anak selama menjalani kehidupan di pesantren.
Orang Tua Dititipi Masa Depan Anak
Ketua Pengurus Yayasan Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido, Ust. Affan Afifi, S.H.I., menyambut para wali santri sebagai bagian dari keluarga besar pesantren.
Ia menyampaikan apresiasi atas kepercayaan orang tua yang telah menitipkan pendidikan putra-putrinya kepada Daarul ‘Uluum Lido.
“Bapak dan Ibu sekalian, hari ini kami menyambut kedatangan Bapak dan Ibu bukan hanya sebagai tamu, tetapi juga sebagai bagian yang sah dan resmi dari keluarga besar Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido,” ujar Affan.
Menurutnya, amanah yang diberikan kepada pesantren tidak sebatas pemenuhan kebutuhan material anak. Orang tua juga menitipkan masa depan, harapan, dan sesuatu yang paling berharga dalam kehidupan mereka.
“Bapak dan Ibu bukan saja menitipkan harta kepada kami, melainkan menitipkan belahan jiwa, menitipkan investasi dunia akhiratnya, dan aset paling berharga dalam hidup Bapak dan Ibu sekalian,” tuturnya.
Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa hubungan antara keluarga dan pesantren tidak berhenti pada proses administrasi penerimaan santri. Keduanya memiliki peran dalam memastikan anak mampu menjalani proses pendidikan dan pembentukan karakter secara bertahap.
Tiga Dekade Perjalanan Daarul ‘Uluum Lido

Dalam kesempatan tersebut, Ust. Affan juga memaparkan perjalanan Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido yang pada 2026 memasuki usia 30 tahun.
Menurut pemaparan tersebut, perjalanan lembaga pendidikan ini berakar dari pendidikan yang dirintis K.H. Alan Suja’i di kawasan Bantar Kemang, Bogor. Perkembangannya kemudian mendapat pengaruh dari K.H. Ahmad Dimyati yang memiliki latar belakang pendidikan pesantren modern.
Pada 1983, sistem pendidikan yang sebelumnya bercorak tradisional mulai bertransformasi menggunakan sistem Tarbiyatul Mu’allimin Al-Islamiyah (TMI). Perubahan tersebut turut membentuk pola kehidupan santri dengan sistem pendidikan berasrama selama 24 jam serta penggunaan bahasa Arab dan Inggris dalam keseharian.
Seiring pertumbuhan jumlah santri, muncul kebutuhan untuk membuka kampus baru. Setelah melalui proses pencarian lahan, pada 17 Agustus 1995 diperoleh tanah di Kampung Muara, Desa Ciburuy, yang kemudian menjadi lokasi Daarul ‘Uluum Lido.
Pendaftaran santri mulai dibuka pada 24 Juni 1996. Sejak saat itu, pesantren terus berkembang hingga memiliki beberapa kampus.
Ust. Affan juga menjelaskan bahwa nama “Lido” memiliki latar belakang tersendiri. Nama tersebut tidak hanya berkaitan dengan kawasan Danau Lido, tetapi memiliki makna historis dan spiritual yang berkaitan dengan doa pendiri ketika menunaikan ibadah haji.
“Lido yang disematkan dalam nama pesantren ini memiliki makna, yaitu limpahan doa. Tanah yang kemudian didirikan pesantren ini adalah hasil dari doa beliau ketika melaksanakan ibadah haji,” jelasnya.
Dalam perkembangannya, Daarul ‘Uluum Lido juga membuka kampus di Cikande, Serang, Banten, sebagai bagian dari perluasan dakwah dan pendidikan pesantren.
Kemandirian Menjadi Salah Satu Karakter Pesantren

Selain perjalanan sejarah, Ust. Affan menyoroti aspek kemandirian sebagai salah satu karakter Daarul ‘Uluum Lido.
Ia menyampaikan bahwa pesantren terbuka bagi berbagai golongan dan tidak berafiliasi dengan organisasi politik maupun partai tertentu. Dari sisi pembiayaan, pesantren berupaya membangun kemandirian melalui pengembangan unit-unit usaha.
“Pesantren ini berdiri secara mandiri. Bahkan kami tidak memiliki donatur tetap. Apa yang menjadi tumpuan ekonomi kami? Tumpuan ekonominya adalah kami mengembangkan unit-unit usaha secara mandiri,” tegasnya.
Sejumlah usaha dikembangkan untuk menopang keberlangsungan pesantren, di antaranya produksi air minum, roti, serta pengembangan perkebunan di Singkil, Aceh.
Pesantren juga terus mengembangkan aset wakaf. Salah satu rencana pengembangan ke depan adalah pembukaan kampus baru di kawasan Babakan Cimande dengan memanfaatkan lahan wakaf dan pengembangan aset pesantren.
Mengapa 40 Hari Pertama Penting?

Khadim Al-Ma’had, Kiai Moh. Yazid Dimyati, S.Th.I., Lc., menjelaskan bahwa 40 hari pertama merupakan fase penting bagi santri baru dalam beradaptasi dengan pola kehidupan pesantren.
Menurutnya, agenda silaturahim tersebut menjadi salah satu bentuk evaluasi setelah santri menjalani kehidupan pesantren selama kurang lebih 40 hari.
Ia mengatakan, sebelumnya terdapat gagasan agar santri baru menjalani masa adaptasi selama 120 hari tanpa penjengukan. Namun, setelah mempertimbangkan kondisi santri dan masukan dari berbagai pihak, penjengukan pertama akhirnya dibuka setelah 40 hari.
“Rumusnya guru saya, tiga bulan atau 120 hari pertama. Tahan dulu, jangan ditengok, jangan dipulang. Tetapi akhirnya saya memilih kalau tidak 120 hari, berarti 40 hari silakan dibuka penjengukan,” ujarnya.
Kiai Yazid menilai masa 40 hari bukan sekadar hitungan waktu, tetapi menjadi fase awal untuk melihat perkembangan santri setelah meninggalkan pola kehidupan di rumah dan mulai menjalani sistem pendidikan pesantren.
Karena itu, ia meminta orang tua memahami proses adaptasi tersebut, termasuk ketika anak mengeluhkan kelelahan.
“Kalau putra dan putri Bapak dan Ibu mengatakan capek di pondok, maka jangan langsung disimpulkan bahwa pesantren ini ketat, keras, atau tidak manusiawi,” jelasnya.
Ia membedakan kelelahan yang disebabkan kondisi kesehatan dengan kelelahan akibat proses adaptasi. Jika terdapat persoalan medis, pesantren siap melakukan penyesuaian. Namun, apabila kelelahan muncul karena perubahan pola hidup, orang tua diharapkan memberikan penguatan agar anak mampu melewati proses tersebut.
Keluhan Anak Perlu Didengar, Bukan Langsung Disimpulkan

Kiai Yazid juga mengingatkan wali santri agar tidak terburu-buru mengambil kesimpulan berdasarkan cerita anak setelah penjengukan.
Menurutnya, keluhan anak tetap harus didengarkan. Namun, informasi tersebut perlu ditelaah dan diklarifikasi dengan pihak pesantren jika menyangkut persoalan yang membutuhkan penanganan.
“Jangan terlalu buru-buru menyimpulkan. Apa yang disampaikan anaknya didengar dulu, kemudian ditelaah. Jika ada hal-hal yang perlu, silakan ditabayunkan, di-cross check dan recheck kepada bagian-bagian yang bersangkutan,” pesannya.
Ia menjelaskan bahwa santri baru sedang menghadapi perubahan besar dalam kehidupan sehari-hari. Mereka mulai belajar bangun lebih awal, mengikuti jadwal kegiatan, mengatur pakaian, menjaga kebersihan, mengelola waktu, belajar bersama teman, serta menyelesaikan berbagai tanggung jawab secara mandiri.
Karena itu, berbagai kekurangan pada masa awal, seperti kamar yang belum rapi, pakaian yang belum tertata, atau kebiasaan lama yang masih terbawa, dinilai sebagai bagian dari proses pembentukan kemandirian.
Kemampuan Membaca Al-Qur’an Turut Dipetakan
Aspek lain yang mendapat perhatian adalah kemampuan membaca Al-Qur’an.
Pihak pesantren telah melakukan pemetaan kemampuan santri baru untuk mengetahui apakah mereka sudah mengikuti program Al-Qur’an atau masih berada pada tahap Iqra.
Kiai Yazid meminta orang tua ikut memantau perkembangan tersebut melalui komunikasi dengan anak dan wali asuh.
“Setelah ini tanya anaknya, ngajinya masuk kelompok Iqra atau kelompok Al-Qur’an. Kalau ternyata masih Iqra, tanyakan juga kepada wali asuhnya,” ujarnya.
Pesantren menargetkan santri yang masih berada pada tahap Iqra dapat menyelesaikan proses tersebut secara optimal sehingga pada semester berikutnya mampu mengikuti pembelajaran Al-Qur’an dengan lebih baik.
Perizinan Pulang Diminta Tidak Mengganggu Fokus
Dalam pertemuan itu, pesantren juga menekankan pentingnya menjaga fokus santri selama menjalani pendidikan.
Kiai Yazid meminta orang tua tidak mengajukan izin pulang apabila tidak terdapat kebutuhan yang mendesak. Menurutnya, terlalu sering meninggalkan pesantren dapat mengganggu konsentrasi santri dalam mengikuti proses pendidikan.
“Kalau ada kebutuhan mendesak, silakan izin. Tetapi kalau tidak penting-penting amat, utamakan agar anak fokus dulu di pondok,” tegasnya.
Persoalan Perlengkapan, Laundry, dan Kesehatan Dibahas
Pertemuan wali santri juga menjadi ruang untuk membahas persoalan teknis yang dihadapi santri baru.
Pihak pesantren menyampaikan permohonan maaf atas keterlambatan sejumlah perlengkapan santri dan menjelaskan bahwa proses pemenuhan masih berlangsung.
Sementara mengenai layanan laundry, pesantren mengakui adanya laporan pakaian yang hilang atau tertukar. Persoalan tersebut sedang ditindaklanjuti melalui proses investigasi, sementara orang tua diminta menyampaikan laporan melalui wali asuh.
Di bidang kesehatan, pesantren menyampaikan adanya kerja sama dengan fasilitas kesehatan serta pemantauan kondisi santri secara berkala.
Adapun paket kiriman yang masuk ke lingkungan pesantren akan melalui pemeriksaan keamanan sebagai bagian dari upaya menjaga lingkungan pendidikan.
Kemandirian Tidak Berarti Santri Dibiarkan Sendiri

Kiai Yazid menegaskan bahwa pendidikan pesantren bukan berarti santri harus selalu berada di bawah pengawasan guru.
Pesantren tetap memberikan ruang bagi santri untuk belajar mengambil keputusan, berinteraksi, menyelesaikan persoalan, dan berkembang menjadi pribadi yang lebih dewasa.
“Selama itu masih bisa diatasi oleh dirinya, alhamdulillah, dia sudah masuk proses pendewasaan. Tetapi kalau sudah mentok, tentu harus segera ditangani oleh para wali asuhnya,” jelasnya.
Pandangan tersebut menempatkan kemandirian sebagai proses bertahap. Santri tidak serta-merta dituntut mampu menyelesaikan seluruh persoalan sendiri, tetapi diberi kesempatan untuk belajar menghadapi persoalan sebelum mendapatkan pendampingan ketika menghadapi situasi yang tidak mampu ditangani secara mandiri.
Orang Tua dan Pesantren sebagai Mitra Pendidikan

Pertemuan wali santri baru tersebut pada akhirnya menjadi ruang untuk menegaskan kembali bahwa pendidikan santri merupakan tanggung jawab bersama.
Pesantren menyediakan sistem pendidikan, pendampingan, serta lingkungan pembelajaran. Sementara orang tua berperan memberikan dukungan emosional, motivasi, dan penguatan kepada anak.
Karena itu, wali santri diharapkan tidak hanya hadir sebagai pengunjung ketika jadwal penjengukan, tetapi juga menjadi mitra pendidikan yang aktif berkomunikasi dengan pihak pesantren.
“Pintu rumah saya selalu terbuka untuk Bapak dan Ibu. Jika ingin sowan, ingin silaturahim, silakan,” tutur Kiai Yazid.
Memasuki fase berikutnya, 40 hari pertama diharapkan menjadi fondasi bagi perjalanan pendidikan santri di Daarul ‘Uluum Lido.
Fase tersebut bukan sekadar masa untuk beradaptasi dengan jadwal dan aturan pesantren, tetapi juga proses membangun kemandirian, kedisiplinan, kemampuan mengelola diri, serta kesiapan untuk hidup bersama dalam lingkungan pendidikan.
Dengan sinergi antara pesantren dan keluarga, perjalanan panjang santri diharapkan dapat berkembang dari sekadar mampu bertahan di lingkungan baru menjadi proses pembentukan pribadi yang mandiri, berilmu, berkarakter, dan siap mengabdi di tengah masyarakat. red:umar kustiadi

Assalamualaikum
Alhamdulillah, semoga wali santri dan segenap keluarga besar pesantren DULIDO kedepannya dapat lebih bersinergi membangun pribadi pribadi yang teguh imannya, mengendalikan dunia ditangannya. Dan dapat ikut terus memajukan pesantren DULIDO. Terima kasih kepada pimpinan dan segenap pengurus pesantren sudah menerima keluhan, masukan maupun kritikan dari wali santri, semoga Allah SWT memberikan balasan kebaikan yang melimpah 🙏