Ahli Dzikir & Ahli Pikir Ideologi Besar Sang Maha Guru – Peringati Hari Guru

Daarululuumlido.com - Ideologi merupakan landasan berpikir bagi setiap insan untuk melakukan satu hal besar dalam hidupnya. Ideologi pun bisa dikatakan sebagai kerangka berpikir untuk meniti jalan kehidupan.  Nabi Nuh membuat kapal yang sangat besar kala itu untuk sebuah peradaban baru, kapal tersebut dibuat dengan kayu pilihan yang sengaja Tuhan perintahkan. Kayu pilihan tersebut ialah bukti sebagai fondasi atau bangunan awal untuk dijadikan bahan dalam mengarungi peradaban yang baru, kedekatan spiritual antara manusia dan Tuhannya menciptakan satu buah perubahan besar menuju sebuah peradaban yang baru, dengan perumpaan di atas, kayu pilihan bisa dikatan sebagai sebuah gambaran tentang ideologi.

Diksi diatas sebagai judul besar, mempunyai makna yang begitu mendalam. Kedalaman arti dari setiap untaian katanya mengarahkan kepada pola berpikir dan bertindak. Sebuah susunan kata yang sengaja disandarkan untuk menjadi sebuah Ideologi ataupun konsep pada satu lembaga pendidikan. Lembaga Pendidikan inilah yang menjadi kendaraan untuk menyalurkan nilai-nilai yang terkandung pada setiap kata yang tertuang dalam ideologi tersebut.

Kematangan berpikir dari seorang guru besar ( alm. KH. Ahmad Dimyati ) membawa dampak yang begitu signifikan dalam kehidupan, terkhusus bagi setiap generasi yang merasakan dan mengamalkan tentang ideologi tersebut, tapi bagaimana untuk para generasi selanjutnya, mereka tak mendengar langsung, tak bertatap muka langsung, tak mengalami kehidupan langsung dengan sosok pendiri ideologi ini. Apakah penanaman doktrin ini mampu meresap secara menyeluruh untuk semua golongan atau hanya menjadi sebuah kata-kata pemanis saja?. Secara garis besar, apa yang ingin beliau bangun melalui ideologi tersebut?

 Representasi Quran

Pendiri Pesantren KH Drs Ahmad DimyatiIdeologi yang dicetuskan oleh ( alm. KH Ahmad Dimyati ) merupakan bentuk representasi karakter-karakter yang ada dalam quran. Nilai-nilai yang ada dalam teks quran yang begitu banyaknya dikerucutkan dalam dua hal, pertama  adalah karakter Ahli Dzikir dan yang kedua  aialah karakter dengan spesifikasi penguasaan akal untuk berpikir. Dua karakter ini berawal dari quran.  Quran sudah sangat lugas dan gamblang memberikan derajat khusus bagi mereka yang mendapatkan titel tentang keilmuan, banyak ayat yang terindikasi memberikan ruang khusus untuk orang yang berilmu. Salah satunya ialah penggalan ayat An-nahl “ tanyakanlah wahai kalian semua kepada Ahli Dzikir “, pengertian dan pemahaman dalam teks ini begitu luas. Dzikir secara bahasa memang memiliki pengertian “mengingat”, dengan artian yang lebih familiar bisa diartikan yaitu golongan ahli ibadah yang senantiasa selalu mengingat Tuhannya.

Orang yang senantiasa mengingat Tuhannya bukan hanya memiliki arti sempit sebagai ahli ibadah, mereka ini senantiasa mentadaburi segala ayat yang ada, ayat-ayat berbentuk teks ataupun ayat-ayat yang ada dalam lingkup mikrokosmik sebagai tanda atas ciptaannya. Karakter ini sangat kuat secara ruhaniah, hubungan antara Tuhan dijalin dengan memahami dan melaksankan segala perintah baik dalam bentuk ibadah mahdhoh dan mereka mampu menyingkronkan  diri dengan alam, ini bentuk dari hubungan yang begitu kuat antara seorang makhluk dengan pencipta-Nya. Wajar jika mereka senantiasa dijadikan sebagai rujukan dalam hal agama.

Pembentukan karakteristik selanjutnya memasuki ranah intelektual, pandangan ini pun tak lepas dari teks quran yang menyatakan ada perbedaan mendasar antara orang-orang yang berpengetahuan dan yang tidak berpengetahuan, pengetahuan ini tidak serta merta didapati secara instan, proses mencari serta mendalami sebuah pengetahuan berawal dari akal manusia itu tersendiri. Akal akan menuntun manusia berpikir, pikiran yang digunakan bisa bervariatif tergantung kecenderungan si manusia itu tersendiri, sudah pasti dalam hal ini, beliau ingnin mencetak seorang manusia yang mampu berpikir rasional dengan asas qurani dan pengetahuan umum.

Dua komponen tersebut yang ingin diterapkan oleh sang guru besar ( alm. KH. Ahmad Dimyati ) dalam lembaga Pendidikan yang ia dirikan, orang yang mampu beribadah kepada tuhannya dengan baik akan menciptakan karakter berakhlaq, kemulian sikap kepada sesama, baik dalam bersosial kepada sesama ataupun bersosial secara khusus dengan Penciptanya. Selanjutnya setelah tercipta insan berakhlaq  maka harus ditanamkan pula didalamnya kecakapan berpikir. Akhlaq & Intelektual, dua paduan selaras, akhlaq mewakili jiwa dan raga sedangkan intelektual mewakili rasa dan akal.

Implementasi Nilai dan Kandungan Quran

Setelah memahami lebih dalam tentang ideologi ( alm. KH. Ahmad Dimyati ), maka selanjutnya ialah mengejawantahkan seluruh nilai-nilai yang ingin ditimbulkan dari ideologi tersebut. Lembaga Pendidikan ialah kendaraan yang mengantarkan ideologi beliau, dari sekian lembaga Pendidikan, nampaknya hanya pesantren yang menjadi kendaraan yang cocok, karena dalam pesantren penanaman doktrin dam dogma tentang keagamaan akan mudah  terwujud.

Pesantren bukan barang baru dalam dunia Pendidikan. Pesantren merupakan satu wadah untuk menempa manusia-manusia yang memiliki kribadian yang pandai dalam berspritual serta berintelektual.

Pencapaian tersebut haruslah melalui sebuah proses panjang. Proses santrisasi adalah hal tepat untuk mengejawantahkan nilai-nilai tersebut. Pesantren yang merupakan bentuk Pendidikan tradisional dengan mengedepankan nilai-nilai agama melalui kajian-kajian “kitab kuning” ataupun “kitab putih” klasik dan kontemporer karangan ulama-ulama besar nusantara maupun dari kalangan ulama internasional. Kitab-kitab tersebut yang dipelajari maupun ditelaah secara mendalam ialah kitab-kitab dalam rumpun al-kalam, fiqh & alat, ini adalah bagian dasar dalam mengarungi Samudra ilmu agama yang berdasar pada Quran dan Hadits. Dari pembelajaran ini pula tentu akan lahir mereka yang menyandang “Ahli Dzikir” Karena mereka mampu menguasai dasar-dasar. Jika menggunakan istilah Cak Nur maka pesantrenlah pencetak generasi-generasi ulama yang akan datang.

Selain pesantren yang mengajarkan tentang kitab-kitab klasik ataupun kontemporer, maka yang harus dipikirkan ialah bagaimana menyiapkan manusia yang ahli dalam bidang intelektual, adapun alat serta sarana untuk mencetak generasi intelek ialah dengan memasukan sistem Pendidikan formal dalam Pendidikan pesantren. Pendidikan formal ini yang menjadi sarana pengukur dan penyeimbang ( chek and balance ) dalam mencetak generasi ini. Pendidikan formal dengan kurikulum bermuatan Pendidikan umum mampu untuk menerapkan pola berpikir kritis akan keadaan sosial maupun saintifik, dari berpikir kritis tentu akan menghasilkan berpikir filosopis akan setiap keadaan. Inilah yang diharapkan dari 2 konsep Pendidikan ini, gaya pesantren dan Pendidikan formal akan mencetak pribadi yang kuat secara spiritual dan intelektual.

Pendiri Pesantren KH Drs Ahmad Dimyati

Pendiri Pesantren KH Drs Ahmad Dimyati

Kesimpulan.

Nilai-nilai yang ingin diterapkan dalam pandangan ideologi ( alm. KH Ahmad Dimyati ) tergambar dalam Pendidikan pesantren. Data dalam Kementrian agama bahwa pesantren terbagi dalam beberapa kelompok, salaf, kholaf, ataupun yang menyatukan kedua konsep tersebut. Pesantren yang didirikan oleh ( alm. KH Ahmad Dimyati ) menganut system kholaf atau modern, tapi satu hal pembeda ialah integrasi antara Pendidikan tradisonal dengan kitab-kitab klasik ataupun kontemporer karangan ulama-ulama ternama dan Pendidikan formal yang mengacu kepada Kemendikbud ataupun Kemenag.

Ahli Dzikir, ialah sebuah output dalam proses Pendidikan. Ahli dzikir bukan semata mereka yang mengaji dimushola ataupun masjid duduk berlama-lama dengan menyebut nama Allah, tapi mereka adalah individu atau pribadi-pribadi yang tertanam dalam jiwanya aqidah & syariat yang mengalir dalam daramnya. Penguasaan hal tersebut diajarkan dalam pola kehidupan seharai-hari dan dalam kajian-kajian kitab klasik maupun kontemporer.

Ahli pikir, pun merupakan sebuah output  dalam mempelajari ilmu-ilmu sosial ataupun sains yang menganut serta mengacu kepada konsep Pendidikan dari pemerintah dalam hal ini Kemendikbud dan Kemenag, pola berpikir kritis dan mampu menggunakan rasionalitas dalam menghadapi hal-hal apa lagi dalam pengetahuan umum. Hanya saja yang perlu diperhatikan dalam Pendidikan formal ala pemerintah ini ialah jangan sampai komponen-komponen pendukung dalam Pendidikan  terjebak dalam Pendidikan administratif, hal ini dalam pandangan penulis sangat sakral diterapkan dalam Pendidikan pesantren, Karena akan merusak jiwa pesantren ( soul of pesantren ) yang berlandaskan 5 hal, keikhlasan (sincerity) , kesederhanaan (simplicity), kemandirian (independence), hubungan dengan sesama (fraternity), kebebasan (freedom) (Komaruzzaman. 2012), administrasi sangat dibutuhkan dalam menjalankan satu buah system, hanya saja belakangan ini para komponen Pendidikan disibukkan untuk memperbaiki administrasi daripada menanamkan nilai-nilai luhur sebuah ilmu.

Pesantren adalah tempat sakral, karena di dalamnya terdapat nilai-nilai luhur tentang Islam, jika penggabungan antara sistem tradisional dengan sistem konvensional ala pemerintah tidak dibijaki dengan arif, maka ruh pesantren akan hilang, dan tentu semua akan mengarah kepada system konvensional.

Demikian gambaran umum yang kiranya penulis bisa sampaikan, tentu pandangan ini terdapat banyak kekurangan, tapi satu hal yang menjadi dasar penulisan ini ialah, tentang pemahaman terhadap ideologi yang ditanamkan oleh ( alm. KH Ahmad Dimyati ), beliau tentu sangat mengininkan generasi dan kaderisasi yang keluar dari Rahim lembaga Pendidikan yang didirikannya mengularkan dua karakter utama yang kuat spiritual serta intelektualnya sehingga mereka akan dijuluki sebagai “ ulil albab “ sebuah titel yang memang cocok untuk pribadi yang menguasai karakter-karakter tersebut.

Wallahu álam bi showab.

Alfaqiir bil ilmi : andhika ramadhan

Related posts