+62 251 — 8224754 sekretariat@daarululuumlido.com

Santri Menguatkan Negeri: Apel Hari Santri 2026 di Daarul ‘Uluum Lido Menguji Makna Perjuangan Santri Masa Kini

Document Image

LIDO — Menjadi santri bukan sekadar menjalani kehidupan di lingkungan pesantren, menghafal pelajaran agama, atau mengikuti rutinitas pendidikan selama 24 jam. Lebih dari itu, menjadi santri berarti memikul tanggung jawab keilmuan, moral, dan sosial yang harus dibuktikan dalam kehidupan nyata. Pesan inilah yang mengemuka dalam apel peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Lapangan Utama Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido, Kamis (22/10/2026).

Kegiatan yang dimulai pukul 07.10 WIB tersebut diikuti oleh para ustadz, ustadzah, dan santri. Dalam irsyadat wa taujihat, Khadimul Ma’had Kiai M. Yazid Dimyati, S.Th.I., Lc., mengajak seluruh peserta untuk tidak berhenti pada seremonial peringatan. Ia menekankan pentingnya membaca kembali sejarah perjuangan santri sekaligus menerjemahkan nilai-nilai kesantrian ke dalam persoalan yang dihadapi masyarakat masa kini.

Pasukan Pengibar Sang Merah Putih Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido
Pasukan pengibar sang merah putih pesantren modern daarul ‘uluum lido

Peringatan Hari Santri menjadi momentum untuk mengajukan pertanyaan mendasar: sejauh mana nilai-nilai yang dipelajari di pesantren benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari? Sebab, kebesaran pesantren tidak cukup diukur dari banyaknya kegiatan, luasnya bangunan, atau panjangnya daftar capaian pendidikan. Ukuran yang lebih mendasar terletak pada kualitas pribadi yang dibentuk dan manfaat yang diberikan kepada masyarakat.

Khadimul Ma’had Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido, Kiai M. Yazid Dimyati, S.th.i., Lc., Bertindak Sebagai Pembina Upacara Pada Apel Hari Santri Nasional 2026.
Khadimul ma’had pesantren modern daarul ‘uluum lido, kiai m. Yazid dimyati, s. Th. I. , lc. , bertindak sebagai pembina upacara pada apel hari santri nasional 2026.

Kiai Yazid mengingatkan kembali Resolusi Jihad, fatwa yang dikeluarkan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Ia mengisahkan, para pejuang kala itu mendatangi sang kiai untuk meminta isyarat apakah perjuangan mereka selaras dengan kehendak Allah. Kiai Hasyim Asy’ari meminta waktu 40 hari — diisi tahannuts, tawajjuh, tahajud, dan munajat — sebelum fatwa itu ditetapkan.

“Dari sejarah, kita belajar bahwa tidak ada keputusan besar, keputusan yang akan memakan nyawa para pejuang, kecuali diawali dengan meminta isyarat dari Allah SWT,” kata Kiai Yazid.

Menurutnya, Resolusi Jihad membuktikan pesantren tidak pernah terpisah dari persoalan kebangsaan. “Santri tidak pernah berdiri di luar sejarah. Santri ikut melahirkan, santri ikut menjaga, dan santri ikut membesarkan negeri ini. Dari pesantren lahirlah ulama, lahirlah pejuang, lahirlah guru-guru, lahirlah pemimpin,” ujarnya.

Tujuh puluh tahun berselang, negara mengakui jasa itu melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 yang menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. “Ini bukan hadiah, ini adalah pengakuan,” tegas Kiai Yazid. “Ini menjadi amanah bahwa santri hari ini wajib melanjutkan perjuangan para pendahulunya, dengan cara dan medan perjuangan yang sesuai dengan zamannya.”

Medan itu, lanjutnya, telah berubah. Santri masa kini berhadapan dengan kebodohan, kemalasan, penyalahgunaan teknologi, penyebaran informasi palsu, dan kecenderungan masyarakat terpecah oleh perbedaan pandangan. Jika pada 1945 perjuangan berarti mempertahankan kemerdekaan, kini perjuangan hadir dalam bentuk penguasaan ilmu, penguatan karakter, dan pengabdian kepada masyarakat.

Santri Tidak Cukup Saleh, tetapi Harus Memiliki Kompetensi

Pembacaan Ikrar Santri Oleh Perwakilan Santri Pada Apel Hari Santri Nasional 2026 Di Lapangan Utama Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido.
Pembacaan ikrar santri oleh perwakilan santri pada apel hari santri nasional 2026 di lapangan utama pesantren modern daarul ‘uluum lido.

Kementerian Agama tahun ini mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Kiai Yazid menilai tema itu sejalan dengan visi Daarul ‘Uluum Lido sebagai lembaga yang mencetak ahli dzikir dan ahli fikir, yang menguasai ilmu-ilmu dasar agama sekaligus ilmu-ilmu umum.

“Ahli dzikir tanpa pikir akan ketinggalan zaman; ahli pikir tanpa dzikir akan kehilangan arah. Keduanya dibutuhkan dalam satu jati diri pribadi santri: hatinya tertambat kepada Allah, akalnya tajam membaca zaman,” kata Kiai Yazid.

Ia menegaskan, kesalehan pribadi adalah modal penting, tetapi tidak cukup. Masyarakat membutuhkan orang yang berniat baik sekaligus kompeten: mampu berpikir kritis, menguji informasi, menyampaikan argumentasi, dan mengambil keputusan. Karena itu, tradisi keilmuan pesantren harus dirawat, sementara pembelajaran diarahkan agar santri memahami persoalan secara mendalam dan menghasilkan karya yang bermanfaat.

Kiai Yazid juga menyampaikan kembali pesan pendiri pesantren, almarhum KH Ahmad Dimyati, bahwa kebesaran pesantren tidak terletak pada bangunan dan fasilitasnya, melainkan pada jiwa besar para alumninya. “Kebesaran Daarul ‘Uluum Lido ini ada di pundak kalian. Kebesaran Lido ini ada dalam akhlak kalian, ada dalam ilmu kalian, dan ada pada pengabdian kalian bagi bangsa, negara, dan masyarakat,” katanya.

Berdiri di Tengah: Moderasi yang Harus Dibuktikan

Barisan Santri Putra Mengikuti Apel Hari Santri Nasional 2026 Di Lapangan Utama Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido.
Barisan santri putra mengikuti apel hari santri nasional 2026 di lapangan utama pesantren modern daarul ‘uluum lido.

Kiai Yazid menegaskan kembali semboyan warisan para pendiri: “Pondok berdiri di atas dan untuk semua golongan.” Semboyan itu, jelasnya, mengajarkan kemandirian dan kenetralan — pondok bukan milik satu partai, satu ormas, atau satu kelompok, melainkan berdiri di atas semua perbedaan agar dapat melayani semua golongan.

Dari semboyan itu, ia merumuskan sintesisnya untuk konteks hari ini: “Berdiri di tengah, bersama dan untuk semua golongan.”

“Berdiri di atas bermakna menjaga jarak agar tetap netral. Berdiri di tengah bermakna hadir di pusat kehidupan umat, tanpa condong pada ekstrem yang melampaui batas. Inilah makna wasathiyah, sebagaimana firman Allah: wa kadzâlika ja’alnâkum ummatan wasathâ — dan demikianlah Kami jadikan kalian umat pertengahan,” ujar Kiai Yazid, merujuk QS. Al-Baqarah ayat 143.

Posisi santri, lanjutnya, adalah posisi penengah dan perekat persatuan: hadir dan berjalan bersama umat dalam suka dan duka, bukan menghubungi masyarakat dari kejauhan. “Ilmu itu untuk seluruh umat, ilmu itu untuk seluruh bangsa dan kemanusiaan,” katanya.

Prinsip itu dinilai relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. “Masyarakat mudah terbelah oleh perbedaan pendapat, pilihan, dan kabar bohong di media sosial. Negeri ini membutuhkan sosok santri yang berdiri di tengah: tidak mudah terprovokasi, tidak gemar menghakimi, dan mampu merangkul perbedaan. Itulah makna sejati santri yang menguatkan negeri,” kata Kiai Yazid. Moderasi, menurutnya, tidak cukup menjadi slogan — ia harus tampak dalam cara santri berdiskusi, menyelesaikan konflik, dan menghargai perbedaan.

Pesantren sebagai Ruang Pendidikan 24 Jam

Barisan Santri Putri Mengikuti Apel Hari Santri Nasional 2026 Di Lapangan Utama Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido.
Barisan santri putri mengikuti apel hari santri nasional 2026 di lapangan utama pesantren modern daarul ‘uluum lido.

Pesan juga disampaikan Kiai Yazid kepada para ustaz dan ustazah. “Hari Santri juga hari kita, hari guru, karena tidak mungkin menjadi guru kalau tidak menjadi santri. Santri yang tangguh lahir dari guru yang ikhlas — jiwa pertama dalam Panca Jiwa Pondok adalah keikhlasan,” ujarnya.

Pendidikan di pondok, lanjutnya, tidak berhenti di ruang kelas. “Dia hadir di kamar, dia hadir di masjid, dia hadir di dapur, dan dia hadir di lapangan. Kehidupan santri di pondok adalah pendidikan 24 jam. Keteladanan kita adalah pelajaran yang paling lama dikenal dan diingat oleh santri,” kata Kiai Yazid.

Karena pendidikan berlangsung sepanjang hari, setiap perilaku pendidik menjadi bagian dari pelajaran. Ia mengajak para guru mendidik dengan keikhlasan, cinta, dan kasih sayang, dengan manhaj yang lurus dan penuh tanggung jawab. Sebaliknya, santri dituntut memahami bahwa belajar bukan proses pasif: diperlukan kesungguhan, penghormatan kepada guru, keterbukaan terhadap koreksi, dan kemampuan mengevaluasi diri.

Ketekunan, Bahasa, dan Perjuangan Intelektual

Potret Pasukan Pengibar Sang Merah Putih Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido Seusai Bertugas Pada Apel Hari Santri Nasional 2026.
Potret pasukan pengibar sang merah putih pesantren modern daarul ‘uluum lido seusai bertugas pada apel hari santri nasional 2026.

Menjelang akhir arahannya, Kiai Yazid menyampaikan tiga pesan penutup. Pertama, jadilah santri pembelajar. Ia mengutip pesan Imam Malik kepada Imam Syafi’i: “Al-‘ilmu yu’tâ wa lâ ya’tî — ilmu itu didatangi, bukan datang dengan sendirinya. Datangilah ilmumu, datangi gurumu dengan adab dan kesungguhan, maka ilmu akan menghampiri.”

Kedua, jangan berhenti sebelum tuntas. Kiai Yazid mengisahkan Ibnu Hajar, yang semula merasa paling lambat dalam menghafal hingga nyaris menyerah. Dalam perjalanan pulang, ia menyaksikan bongkahan batu besar berlubang oleh tetesan air terjun. Ia kembali kepada gurunya, menuntaskan belajarnya, dan karya serta ilmunya abadi hingga hari ini. “Ingat ilmu padi: semakin berisi, ia merunduk. Semakin tinggi ilmu, semakin santun akhlak,” katanya.

Ketiga, kuasai bahasa. Bahasa Arab membuka sumber-sumber utama keislaman; bahasa Inggris membuka akses pada ilmu pengetahuan dan komunikasi global. “Bahasa Arab adalah kunci perjalanan pulang; bahasa Inggris adalah kunci jendela dunia. Dengan dua bahasa ini, kalian bisa membawa nilai-nilai kesantrian ke mana-mana,” ujar Kiai Yazid.

Upacara hari santri nasional menegaskan bahwa perjuangan santri tidak berakhir saat sejarah dikenang atau seremoni selesai. Ia dimulai ketika nilai-nilai para pendahulu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari: menguasai ilmu, menjaga akhlak, memperkuat moderasi, dan mengambil peran dalam menyelesaikan persoalan masyarakat.

“Perjuangan kita hari ini adalah jihad melawan kebodohan, jihad melawan kemalasan,” kata Kiai Yazid, sebelum menutup arahannya: “Selamat Hari Santri Nasional 2026. Santri Hebat, Negeri Kuat, Indonesia Emas.” red: Umar Kustiadi

Tulis komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses